Kalaulah aku setuju bahwa sebuah mimpi memang hanya bunga tidur yang tak tentu dan tak jelas maknanya, mungkin segalanya akan menjadi jauh lebih mudah.
Jauh lebih mudah dianggap tak ada, dan dilupakan.
Sayangnya, mimpi bagiku seringkali jadi sebuah perjalanan kesadaran. Tak terhitung lagi berapa kali aku terpaksa bangun dengan ingatan dan perasaan yang masih melekat kuat akan semua itu. Memaksaku melihat akan sebuah kenyataan.., yang mungkin dalam kesadaranku, justru tak kusadari? Atau aku tak pernah benar - benar ingin tersadar?
Pagi ini aku terbangun, dengan sebuah kesadaran yang dengan berat hati harus kuakui benar adanya. Bahwa aku tak pernah bisa menaiki anak tangga dari kaca itu, meski demi dirinya sekalipun. Tiba - tiba saja aku menyadari, bahwa mungkin dia tak benar - benar berarti bagiku, sampai aku tak berani mempertaruhkan sedikitpun keberanianku untuk membuktikan padanya apa yang ia tunggu.
Benar bahwa dia selalu membuatku mengejar sosoknya. Selalu membuatku merasa berlari. Selalu menarik segala hal dariku sekuat mungkin dan membuat aku mengerahkan seluruh usahaku, melebihi apa yang kukira sebagai batas kemampuanku. Dia sosok yang selalu kukagumi, dan kucintai, dan kusyukuri adanya.
Dan benar juga adanya, bahwa satu mimpi tadi membuatku mengingat semuanya tentangmu. Tentang caramu mengayomiku, mendukungku dan menyorong punggungku dari belakang, dulu. Membuatku kembali mengingat, mengapa dulu aku mencintaimu.
Andaikan semua itu benar terjadi, andaikan semua itu benar harus kulalui, andaikan masa lalu dan sekarang benar - benar tak terpecah, mungkin aku akan benar - benar menjadi sosok wanita yang menjijikkan itu.
Wanita yang mengkhianatimu.
Wanita yang mengkhianatinya.
Wanita yang manja dan egois.
Wanita yang tak berani berhadapan dengan ketakutannya sendiri.
Wanita yang hanya bisa menjawab bahwa siapapun yg bersamanya akan menghadapi satu keterbatasan dan tak akan bisa berkembang, tanpa benar - benar mengerti, apa keterbatasannya itu.
Tiba - tiba saja aku menyadari, betapa kerdilnya aku.
Betapa jauhnya aku dari segala yang kuharapkan dan kupikirkan.
Betapa hidupku ditolong oleh begitu banyak kejadian - kejadian yang membuatku bisa melewati situasi - situasi seperti itu, sehingga aku tak pernah benar - benar menjadi menjijikkan seperti itu.
Dan betapa bodohnya aku yang dengan sombongnya berpikir bahwa hidupku selama ini adalah hasil keputusanku sendiri, padahal kenyataannya keputusanku lah hasil dari pilihan - pilihan yang disediakan hidupku.
Betapa aku belum melakukan apa - apa.
Sungguh bodoh dan kerdilnya aku!
Aku berbaring dengan mata berkaca - kaca. Menangispun ku tak bisa. Aku terlalu menyadari bahwa semua itu benar adanya. Dan hatiku terlalu hancur untuk mengetahui bahwa aku harus tersadar dengan cara ini. Aku hanya dapat meringkuk lebih dalam dan membiarkan mataku sembab dalam diam.
Kau tahu, aku memberitahunya tentang semua mimpi itu. Termasuk bahwa aku bahkan tak berani menaiki anak tangga kaca itu, meski demi dia sekalipun. Bahwa mungkin, dia tak benar - benar berarti bagiku. Dia mendengarkan dengan tenang dan berkata, "Kamu takkan jadi wanita yang seperti itu. Bersamaku, kamu takkan pernah jadi wanita yg seperti itu."
Dan aku tahu, dia memang akan selalu seperti itu.
Dan aku akan tetap selalu mengejar sosoknya dari belakang, namun kali ini dia mungkin akan berhenti untuk menungguku sejenak.
Sementara kamu, hidupmu sudah berlanjut sejak lama, dan semuanya sudah selesai sejak lama. Tak ada sesal, dan tak ada kesal. Mungkin kalau tanpa sengaja kau terhenti pada tulisanku ini, dan kau menyadari bahwa ini tentangmu, aku hanya ingin mengatakan,
I don't know why (it was you), but I am glad (it was you).
Dan aku sudah tahu mengapa kau akan bertemu dengan sebuah keterbatasan apabila bersamaku. Karena kau akan lelah menyorongku, dan aku tak memiliki seseorang untuk kukejar.
-----------------------------------------------------
I don't know why (it was you), but I am glad (it was you)
CLOSE P.J.G