Kenyataan belum juga berdamai.
Sudah siapkah kita berperang melawan arusnya?
Cinta dan rindu yang meregang pengakuan juga pengingkaran
Kita sedang mengawalinya
Apa sebenarnya yang kita inginkan sekarang?
Kita telah belayar
Dan kita adalah sepasang penumpang yang terombang-ambing dipusaran gelombang
Bersambung.
Inilah episode yang kita inginkan?
Cerita cinta yang berulang tanpa pengakhiran
Entah! Mari kita merintih bersama, tanyakan pada hati.
Rabu, 12 Desember 2012
Ujung pengakhirannya
Apa yang telah kau gapai dalam hidup
ini?
Restu orangtua dengan keakuan-keakuan
lainnya?
Yang kulihat kau bersikap layaknya
selebriti tampil penuh pesona
Dengan membudidayakan teriakkan penonton
untuk menyorakinya
Senyum membangga bahwa kau seperti se(ri)galanya
Aku kira menjadi dirimu, aku takkan bisa
lebih pintar
Menggunakan hati tanpa belajar
Namun aku berperasaan
Dan aku dapat menahan diri dari gejolak
perasaan
Tapi, sayangnya aku bukanlah dirimu
Menganggap semuanya lugu
Seperti lugu sapamu hanya membentur
angin lalu
Baiklah! Mungkin ini yang kau perlu
Memposisikan dirimu dengan menganggap
manusia itu ada
Bahkan tanpa kata “dengan” pun, aku
mampu membawa pulang bahagia
Dan kau lebih senang memproklamirkan disetiap
beranda
Tapi aku tak pandai seperti anda.
Yang kutahu bahwa
Cinta memiliki aturannya sendiri
Cinta mendekat dan menjauh tanpa aturan
Cinta mewujud dalam berbagai bentuk tak
terduga
Cinta bukan soal gagal atau tidaknya
Tak bisa dicerna kecuali dengan mata
hati
Ikuti saja kemana ia membawa serta
Membutuhkan waktu yang tak terbilang
untuk pertautan dan perpisahan
Tangis yang mencakup bahagia, juga tawa
yang mencatut luka
Sepertiku saat kuputuskan masuk kedalam
laut hatimu
Aku pun berenang jauh melawan jarak dan
waktu
Cinta tetaplah indah apapun hasilnya
Apa yang seharusnya kita lakukan adalah
mencari kesempurnaannya
Bukan mencari keakuan-keakuan lainnya
Itu saja.
Minggu, 09 Desember 2012
Dua sebab
Ada sebabnya saya bertahan diantara keadaan ini
Dimana saya merasa masih membutuhkan dirimu
Diantaranya lagi saya belum bisa membuang jauh kenanganmu
Dua keadaan inilah yang sering membuatku terlena
Membiarkan segala cuaca dihatiku menerima resapan rindumu
Membiarkan bayang-bayangmu menerangi khayalanku
Bahkan membiarkan diri ini menerima (lagi) keburukan-keburukan
Entah harapan yang memudarkan kenyataan atau keputusasaan yang tak dapat lagi kembali bersamamu
Aku ini hanyalah, perempuan
Perempuan yang terbiaskan kekecewaan
Kekecewaan yang telah biasa membayangiku untuk terus menunggu
Dengan hidupku sebagai bekas kekasihmu, telah membuat hidupku lebih berarti (lagi)
Berarti, menghadapi kesialan bahkan kesialan setiap harinya
Ya. Sangat membekas dihati.
Tapi tenanglah, keadaan ini akan terbiasa
Berpura-pura bahagia itu cukup
Cukup, aku masih dapat menjaga hatimu
Dimana saya merasa masih membutuhkan dirimu
Diantaranya lagi saya belum bisa membuang jauh kenanganmu
Dua keadaan inilah yang sering membuatku terlena
Membiarkan segala cuaca dihatiku menerima resapan rindumu
Membiarkan bayang-bayangmu menerangi khayalanku
Bahkan membiarkan diri ini menerima (lagi) keburukan-keburukan
Entah harapan yang memudarkan kenyataan atau keputusasaan yang tak dapat lagi kembali bersamamu
Aku ini hanyalah, perempuan
Perempuan yang terbiaskan kekecewaan
Kekecewaan yang telah biasa membayangiku untuk terus menunggu
Dengan hidupku sebagai bekas kekasihmu, telah membuat hidupku lebih berarti (lagi)
Berarti, menghadapi kesialan bahkan kesialan setiap harinya
Ya. Sangat membekas dihati.
Tapi tenanglah, keadaan ini akan terbiasa
Berpura-pura bahagia itu cukup
Cukup, aku masih dapat menjaga hatimu
Langganan:
Postingan (Atom)