Meradang.
Apa yang bersemayam dalam pikiranmu sekarang?
Mungkinkah benci? Hanya diam.
Dan..diammu yang menengahi langit
Berjalan beriringan dengan diamku yang melukis malam tak bewarna
Sapa manjamu tepikan gelisah yang memamah gundah
Mengapa hadirmu yang sekejap menelantarkan pikiran di batas gelisah
Dan..galau meracau sirna
Lalu tanda-tandamu tak juga bisa kubaca
Bahkan, sekedar satu kata pun, tak ada
Dejavu. ragu bertamu tanpa permisi
Hadirmu kenapa semu, di mana sebenarnya kita berdiri?
Dan..apakah kata tlah mati dalam benjananya?
Telanjang membuka dirinya, tapi hilang maknanya dalam kesenyapan masa
Rapuhkah bahagia yang kusentuh?
Membungkam waras, bahkan sekadar untuk mengaduh, sekali saja.
Lalu..aku tlah berjalan begitu jauh dari diriku
Begitupun sebesar inginku dan sedalam harapanku:
Ingin bernaung kembali dalam payung mata beningmu
Itu, saja.