Senin, 23 September 2013

Kenyataan belum juga berdamai

Kenyataan belum juga berdamai.
Sudah siapkah kita berperang melawan arusnya?
Cinta dan Rindu yang meregang pengakuan juga pengingkaran.
Kita tidak sedang mengawalinya karena kita tidak pernah mengakhirinya.
Apa sebenarnya yang inginkan sekarang?
Kapal telah berlayar.
Dan kita adalah sepasang penumpang
yang terombang ambing di pusaran gelombang

Bersambung.
Inikah episode yang kita inginkan?
Cerita cinta yang berulang tanpa pengakhiran
Entah!

Notasi


Pada akhirnya, perjalanan panjang yang bisa
memahamkan; di posisi mana, arti hadir kita
Sekedar remah atau senyata emas.

Jatuh cinta pada padangan pertama, itu
mungkin terjadi. Tapi, sekali lagi, waktu juga
yang akan menguji.

Tak butuh menjadi siap atau apa aku di matamu
ketika cinta jatuh telak dihatimu
aku adalah aku tanpa awalan atau akhiran.
ketika kamu jatuh telah di hatiku,
kamu adalah kamu tanpa notasi berurutan; di hatiku


Melupakanmu? Tidak.

Selambat atau secepat apa kita ingin melupakannya?
Tidak ada jawaban yang tersirat, pun tersurat.
Selama ingatan adalah akarnya, melupakan adalah milik waktu; kapanpun itu.
Biarkan waktu yang melupakanmu karena aku tak mampu membunuh ingatanku.

Kehilanganmu membuatku mempunyai harapan..
Harapan yang membuatku bisa terus berjalan.

Dan..
Aku percaya cinta itu bersifat menuntun.
Tapi kubutuh tanganmu untuk sampai ketujuan.

Muara segala kenang

....
Ada bayang yang tak pernah pergi
Ada nama yang selalu mendiami
Serat seutas wajah yang terus menerangi
Pada hati bangkitkan semangat diri
Kini ku lalui hari - hari, Sendiri.

Malam ini kutulis puisi hati
Aku pernah sempat mengungkapkan isi hati
Hanya ada pada makna puisi dan lagu ini yang bisa ku beri
Bahwa cinta belum menemui
Aku kalap pada perasaan sendiri
Bahwa hati tak bisa dibohongi

Tunggu saja hingga besok
Kalau cinta datang lagi
Akan kubuat kepingan itu bersatu kembali
lalu...
Senja tengah terlelap, menghela nafas
Meninabobokan diri dari keriuhan

Kala itu..
Tentang kala, satu masa dari cerita kita yang bisu
Ketika setiap kata sendat di ketepian penantian
Hanya bisa mengingatmu lewat lirik lagu sedih

Selamat malam. .kamu, muara segala kenang..




Rabu, 18 September 2013

Seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat Bahagia

Saya sudah berada jauh
Jauh dan jatuh ke dalam hatinya
Kini pilihan telah memaksaku untuk memilih diantaranya
Meninggalkan atau tetap berada di posisi yg tak jelas tujuannya

Apa saya pantas untuk mengadilinya?

Katamu, Tuhan. Cinta adalah Anugrah.
Tapi kurasa ini anugrah yang sangat menyakitkan.
Terkadang, ketika saya melupakan pahitnya, saya bisa terlalu nyaman, disampingnya.
Ketika saya tahu, saya berada ditempat yang salah, saya terkadang menyalahi pendapat sebagian orang.
Dan akhirnya saya menenangkan diri dengan berkata kepadanya:
”ya udah jalanin aja dulu, tergantung Allah nanti..,"

Sungguh, saya sekarang sedang menjilati ludah saya sendiri.
Rasanya, mengganjal, gelisah, rasanya serba salah.
Dengan itu, saya lebih menutup diri.
Tuhan, seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat bahagia.
Dan saya telah merubah posisinya..
Bagaimana kalau kebahagiaan yang mencari kita di tempat yang salah?
Saya tidak menginginkan ini, tapi saya telah mencintai perjalanan ini.
Bukan kita yang salah langkah, namun keadaan ini yang membuat kita jatuh kedalam

Kita hidup di lingkungan dimana hampir setiap orang penuh dengan kepura-puraan yang sebenarnya ia tidak inginkan. Mau ngejelasin gimana pahitnya juga enggak bakalan ngerti kalau belum pernah neleh ‘HAL’ yang sama.
Karena menahan untuk tidak pergi adalah Harapan.
Karena Perpisahan adalah pasti untuk ujung kisah ini.

Teman saya pernah berkata dalam twitternya: