Kata - kata bernyawa adalah sayap bagi para pemikir,
karena tanpanya, esensi kehidupan hanyalah ilusi,
dan pendalaman diri hanyalah mimpi.
Menulis adalah media untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. Kupikir itu benar adanya. Paling tidak itu benar bagiku. Dan bukan hanya menulis, tapi juga membaca, merefleksikan pemikiran, dan bercermin akan setiap hal yg dilakukan setiap harinya. Semuanya memungkinkanku untuk lebih mengenal diriku lebih dalam lagi.
Namun menulis dan membaca, memang mendapat tempat khusus di hatiku. Mengapa? Karena aku merasa menjadi manusia dan menjadi diriku sendiri saat melakukan keduanya. Ada kesunyian dan ketenangan. Ada jeda, ruang, perjalanan, dan diam.
Di dalam diam, ada kesadaran. Aku setuju dengan pernyataan itu. Diam, sendiri, dan sepi, merupakan tiga hal yang menjadi kombinasi paling baik untuk melatih kesadaran. Lucunya, tiga hal itu juga yg paling dihindari oleh manusia.
Coba saja tanyakan pada orang - orang di sekitar kita tentang hal apa yg paling mereka benci? Biasanya 2 diantara 3 akan menjawab: menunggu, makan sendirian, dan merasa sepi. Tiga hal yang membuat kita menyadari sepenuhnya akan kehidupan ini. Sebuah perjalanan sendirian, tanpa kepastian, dan sesungguhnya amat sangat sunyi.
Aku pernah berlari sejauh mungkin dari semua itu. Mencoba berada di antara keramaian, berharap semua rasa itu tidak akan menghampiriku, berharap perjalanan yang kulalui tidak seperti itu, berharap semuanya hanya ilusiku semata. Dan yang terjadi adalah, titik akhir merenggut segalanya dariku.
Ya. Segalanya.
Hingga tiada tersisa. Kosong melompong. Aku terhenti di titik itu. Ditemani diam, sendiri, dan sepi. Menyeretku hingga ke dasar yang terdalam, dan mengunciku di sana. Lalu segalanya berhenti.
Dalam kesadaran, ada penerimaan. Aku juga merasa itu benar adanya. Saat segalanya berhenti bagiku, hanya kekosongan yang ada. Kosong itu hampa. Tidak bisa dihalau atau direngkuh, namun tidak bisa juga untuk tidak dirasakan. Ia ada, dalam tiada. Ia tiada, dalam ada. Tidak bisa disanggah, pun tidak bisa disetujui.
Hingga entah bagaimana, aku bisa menerimanya. Menerima bahwa begitulah adanya. Tidak bisa dijelaskan, juga tidak bisa dianggap tidak jelas. Hanya begitulah adanya. Dan begitu saja jualah aku menerimanya.
Aku diam. Aku menyadarinya. Dan aku menerimanya.
Hanya begitulah adanya. Tidak benar, tidak salah. Tidak ada, tidak tiada.
Diam, sendiri, sepi. Tiga hal yang akan selalu membawa kita kepada diri kita yg terdalam.
-------------------------------------
Kata - kata bernyawa,
seringkali mereka yang menjadi gerbang dalam sebuah perjalanan kesadaran.
Sabtu, 25 Desember 2010
Jumat, 24 Desember 2010
Pertanyaanku adalah Jawabanku ....
Mungkin aku memang manusia yang kurang bersyukur. Kuterima itu dengan lapang. Mungkin aku manusia yang paling egois di dunia ini. Itupun kuterima dengan lapang. Kalau itu dapat membuat segalanya menjadi lebih baik bagimu, kuterima semuanya dengan lapang.
Namun aku tak mungkin menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Kalau ada orang yang menjanjikan sesuatu yang tak pasti padamu, kujamin itu bukan aku. Kalau ada orang yang bisa berpura - pura dan berbohong demi dirimu, kujamin itu juga bukan aku. karena aku tak pernah percaya ada kebahagiaan yang berdiri dengan menginjak apapun, termasuk kebenaran dan kejujuran, atas alasan dan atas pilihan apapun.
Atau benar kata orang tua? Bahwa cinta hanya masalah waktu, situasi, dan kondisi?
Mengerti, amatlah berbeda dengan memahami. Kamu mungkin mengerti, tapi kamu tak pernah ada di posisiku untuk bisa memahamiku. Aku pun mengerti, tapi aku tak bisa memahami yang kau maksud.
Masalahnya adalah, bagaimana caranya melakukan sesuatu yang kau mengerti tapi tak kau pahami mengapa dan bagaimana harus melakukannya?
Andaikan kata - kata dan air mata cukup untuk menunjukkan dan memahami, mungkin dunia ini sudah jadi surga.
Kalau kusetujui saja pendapatmu bahwa aku hanya memprioritaskan diriku sendiri, selesaikah semua masalahmu? Karena setelah kupikir lebih jauh, aku tak terlalu keberatan dengan semua itu. Aku, sejak dulu, memang manusia yang egois dan individualis. Tak ada bedanya bagiku, apapun sebutannya.
Dan masihkah sekarang kau bertanya, mengapa ada kalanya aku ingin membunuh dan membuang cinta ini jauh - jauh?
Minggu, 05 Desember 2010
Semenjak hari itu
Semenjak hari itu
kurasakan segalanya berubah
Ada yang menghilang dari dalam hati
dan ada yang berubah dari dalam diriku
Segalanya tak sama seperti dulu lagi
dan meskipun aku berusaha tak melihatnya, ternyata semua itu tetap terasa.
seperti dosa yang setiap kulakukan
bayangan . . .Getaran itu datang dan pergi, kesunyian itu hadir hampir setiap hari.
Dan aku tiada hentinya menoleh. Mencari sumber getaran dan kesunyian yang pekat itu.
Terus bertanya - tanya, di manakah semuanya bermuara? Di manakah segalanya berakhir?
Semuanya sungguh telah berubah. Aku tak lagi sama seperti yang dulu.
Membenarkan prinsip bahwa hidup perlu bebas bukan menerima karna terpaksa.
Letih dan aku akan mengakhiri semuanya, sendiri, hening, diam
kurasakan segalanya berubah
Ada yang menghilang dari dalam hati
dan ada yang berubah dari dalam diriku
Segalanya tak sama seperti dulu lagi
dan meskipun aku berusaha tak melihatnya, ternyata semua itu tetap terasa.
seperti dosa yang setiap kulakukan
bayangan . . .Getaran itu datang dan pergi, kesunyian itu hadir hampir setiap hari.
Dan aku tiada hentinya menoleh. Mencari sumber getaran dan kesunyian yang pekat itu.
Terus bertanya - tanya, di manakah semuanya bermuara? Di manakah segalanya berakhir?
Semuanya sungguh telah berubah. Aku tak lagi sama seperti yang dulu.
Membenarkan prinsip bahwa hidup perlu bebas bukan menerima karna terpaksa.
Letih dan aku akan mengakhiri semuanya, sendiri, hening, diam
Senin, 29 November 2010
Hanya untuk sebuah kalimat
Hidup memang gak akan lebih baik dari ini ...
ini suatu kenyataan..
tanpa perlu bertanya pada mereka yang bisa melihatpun..
aku bisa melihat kenyataan di hadapanku.
Yang tak kusuka,
tak mampu kutepis
yang tak kuharapkan,
tak mampu kuhindari
hatiku menjerit...
namun mulutku bungkam.
ingin menangis..
namun tak setetespun mampu meleleh..
segalanya seolah diatur..
hanya untuk sebuah kalimat
"segalanya terjadi untuk yang terbaik"
inikah hidup??
ini suatu kenyataan..
tanpa perlu bertanya pada mereka yang bisa melihatpun..
aku bisa melihat kenyataan di hadapanku.
Yang tak kusuka,
tak mampu kutepis
yang tak kuharapkan,
tak mampu kuhindari
hatiku menjerit...
namun mulutku bungkam.
ingin menangis..
namun tak setetespun mampu meleleh..
segalanya seolah diatur..
hanya untuk sebuah kalimat
"segalanya terjadi untuk yang terbaik"
inikah hidup??
Minggu, 28 November 2010
Seperti Bermain Ular Tangga
Kadang dapat dadu 6 dan dapat kesempatan sekali lagi.
Kadang dapat dengan anak tangga tinggi dan melesat ke depan melewati yang lain.
Kadang dapat dengan anak tangga rendah dan sedikit senang karena kejutan yang ada.
Kadang dapat ular dan turun ke bawah dengan sedih, tanpa perlu diperjelas berapa panjang ularnya atau turun berapa nomor.
Hidup itu seperti bermain ular tangga.
Bedanya adalah batas nomornya tidak ada.
Kalaupun ada, bukan kita yang menentukannya.
Masihkah kamu menggerutu dan merengut saat yang lain sampai duluan di kotak nomor 100?
Masihkah kamu menggerutu dan merengut saat ular menghadang kotak hidupmu?
Nikmati saja.
Dan mainkan hingga selesai. :)
Pada akhirnya yang berarti bukanlah siapa pemenangnya,
melainkan berapa banyak orang yang dengan setia menunggumu menyelesaikan permainan sampai akhir.
Bukan begitu? :)
berakal, beradab, berhati, dan bernyawa.
Tak adakah tempat dan masa di mana semua orang dapat menghargai nyawa dan hidup satu dengan yang lainnya ?
Tak adakah kesempatan dan waktu di mana semua orang dapat merasa bahagia, hidup dengan penuh rasa syukur dan saling menghargai ?
Ataukah memang manusia tercipta untuk dihakimi?
Seseorang pernah berkata,
"Hanya manusia yang membunuh demi keinginan dan kepuasan. Tidak binatang, apalagi tumbuhan."
Dunia memang telah semakin tua dan mungkin sedikit demi sedikit membusuk,
namun setidaknya sampai dunia ini benar - benar membusuk dan hancur karena waktu,
hiduplah dengan selayaknya sebagai seorang manusia yang berakal, beradab, berhati, dan bernyawa.
Untuk sebuah alasan
Agaknya aku mulai memahami apa yg kamu maksud dulu.
Semua ini tidak penting sama sekali.
Tidak membuat hidupku lebih merana ataupun lebih bahagia.
Semua ini hanya kepuasan batin semata.
Kepuasan untuk bisa menyatu dan menjadi diri sendiri,
Agaknya aku mulai memahami apa yang ingin kau cari waktu itu dengan 'membunuh' nya.
Aku sepertinya sedang berada di titik itu.
-----------------------
Untuk sebuah alasan..
Hidup
Semua ini tidak penting sama sekali.
Tidak membuat hidupku lebih merana ataupun lebih bahagia.
Semua ini hanya kepuasan batin semata.
Kepuasan untuk bisa menyatu dan menjadi diri sendiri,
Agaknya aku mulai memahami apa yang ingin kau cari waktu itu dengan 'membunuh' nya.
Aku sepertinya sedang berada di titik itu.
-----------------------
Untuk sebuah alasan..
Hidup
Jumat, 26 November 2010
seperti ilalang dan rumput liar
Hanya untuk segala yang ada saat ini
Aku berterima kasih padamu
Hanya untuk segala yang akan datang
Aku doakan agar terwujud
Hanya untuk segala yang lalu
Aku masih berpegang
Namun..
Segalanya tak bisa selamanya
Dan selamanya tak bisa untuk segalanya
Terlebih kau bukan segalanya bagiku
dan selamanya bukan milik kita
Namun..
Kau pasti mengerti
Karena segalanya takkan selamanya
Dan selamanya tak bisa untuk segala
Seperti ilalang dan rumput liar
begitulah sebuah hidup berputar
terkadang diinjak, terkadang dicabut
Sabtu, 20 November 2010
Berpikir Sederhana ajaa
Pernah sekali waktu di SMA dulu, hampir semua anak di kelas dapat merah di mata pelajaran fisika. Yang membuat merah adalah semua soal, yang hampir semua anak menjawabnya dengan salah. hahahahaahaha, Soalnya cukup panjang, Siapa sangka jawabannya sangat sederhana??? Hahh >,<
Teringat ucapan guru fisikaku waktu itu, "Kalian mikirnya terlalu rumit sih. Selalu berpikir bahwa soal yang diberikan adalah soal sulit dan rumit, jadi mikir jawabannya berputar - putar dengan berbagai kemungkinan. Padahal soalnya mudah dan sekali jalan sudah langsung beres." (Kata Pak Jaya, guru bantuan SMA 58)
Kurasa, aku masih sering jatuh di perangkap yang sama. Berpikir terlalu rumit untuk sebuah masalah yang sederhana. Memandangnya terlalu jauh hanya karena keterangan yang terlihat begitu banyak, padahal inti pertanyaannya sederhana.
Sayangnya, sekarang tidak ada yang bisa memberikan kunci jawaban untuk membandingkan benar atau salahnya. Bahkan tidak ada yang bisa memberikan jawaban mana yang benar.
Benar selalu abu - abu.
Benar selalu tergantung situasi dan kondisi.
Benar selalu tergantung pilihan.
Dan terkadang ...
Benar tidak lagi penting.
Berpikir sederhana, sepertinya begitu sulit di jaman yang serba rumit ini. Otakku telah terbiasa dilatih untuk melakukan antisipasi akan berbagai hal. Memastikan untuk meminimalisasi masalah yang akan kuhadapi dan kulalui. Mengkalkulasi daya dan usaha yang harus diberikan, berbanding dengan hasil yang kuterima. Hingga hampir tidak dapat kupercaya apabila masih ada masalah yang sederhana di jaman ini.
Namun ternyata sungguh. Masalah yang ada, seringkali begitu sederhana. Dan penyelesaiannya terlebih sederhana lagi, hingga membuatku terheran - heran dan bertanya - tanya bagaimana masalah sesederhana itu bisa muncul ke permukaan menjadi sebuah gelombang besar? Sebesar nilai fisikaku, angka nol besar satu halaman penuh lembar ujian, hahahahahahahahah. bangga :D
Berpikir sederhana. Sepertinya aku masih harus belajar lagi.
-------------------------------------------------------------------------
Kalau ingin mencari solusi, jangan mencari dukungan.
Jangan bertanya tentang kebahagiaan pada orang yang tak tahu apa itu bahagia. Bertanyalah pada orang yang tak tahu apa itu sedih. Ada kalanya dan ada baiknya pedih disimpan di dalam hati. Agar darahmu tak mengental karena kekurangan air mata. Berhentilah mempermasalahkan kalau pada akhirnya kamu harus melupakannya. Permasalahkan hanya hal - hal yang harus kau ingat seumur hidupmu."
Berhentilah khawatir akan masa depan. Selama itu tidak membunuhmu hari ini, (itu) tidak akan membunuhmu besok. Coba hilangkan bagian untuk dirimu, dan coba tambahkan bagian orang lain. Berpikirlah sederhana. Masalah di dunia ini tak lebih dari masalah sederhana yang ditunda - tunda penyelesaiannya.
Teringat ucapan guru fisikaku waktu itu, "Kalian mikirnya terlalu rumit sih. Selalu berpikir bahwa soal yang diberikan adalah soal sulit dan rumit, jadi mikir jawabannya berputar - putar dengan berbagai kemungkinan. Padahal soalnya mudah dan sekali jalan sudah langsung beres." (Kata Pak Jaya, guru bantuan SMA 58)
Kurasa, aku masih sering jatuh di perangkap yang sama. Berpikir terlalu rumit untuk sebuah masalah yang sederhana. Memandangnya terlalu jauh hanya karena keterangan yang terlihat begitu banyak, padahal inti pertanyaannya sederhana.
Sayangnya, sekarang tidak ada yang bisa memberikan kunci jawaban untuk membandingkan benar atau salahnya. Bahkan tidak ada yang bisa memberikan jawaban mana yang benar.
Benar selalu abu - abu.
Benar selalu tergantung situasi dan kondisi.
Benar selalu tergantung pilihan.
Dan terkadang ...
Benar tidak lagi penting.
Berpikir sederhana, sepertinya begitu sulit di jaman yang serba rumit ini. Otakku telah terbiasa dilatih untuk melakukan antisipasi akan berbagai hal. Memastikan untuk meminimalisasi masalah yang akan kuhadapi dan kulalui. Mengkalkulasi daya dan usaha yang harus diberikan, berbanding dengan hasil yang kuterima. Hingga hampir tidak dapat kupercaya apabila masih ada masalah yang sederhana di jaman ini.
Namun ternyata sungguh. Masalah yang ada, seringkali begitu sederhana. Dan penyelesaiannya terlebih sederhana lagi, hingga membuatku terheran - heran dan bertanya - tanya bagaimana masalah sesederhana itu bisa muncul ke permukaan menjadi sebuah gelombang besar? Sebesar nilai fisikaku, angka nol besar satu halaman penuh lembar ujian, hahahahahahahahah. bangga :D
Berpikir sederhana. Sepertinya aku masih harus belajar lagi.
-------------------------------------------------------------------------
Kalau ingin mencari solusi, jangan mencari dukungan.
Jangan bertanya tentang kebahagiaan pada orang yang tak tahu apa itu bahagia. Bertanyalah pada orang yang tak tahu apa itu sedih. Ada kalanya dan ada baiknya pedih disimpan di dalam hati. Agar darahmu tak mengental karena kekurangan air mata. Berhentilah mempermasalahkan kalau pada akhirnya kamu harus melupakannya. Permasalahkan hanya hal - hal yang harus kau ingat seumur hidupmu."
Berhentilah khawatir akan masa depan. Selama itu tidak membunuhmu hari ini, (itu) tidak akan membunuhmu besok. Coba hilangkan bagian untuk dirimu, dan coba tambahkan bagian orang lain. Berpikirlah sederhana. Masalah di dunia ini tak lebih dari masalah sederhana yang ditunda - tunda penyelesaiannya.
Minggu, 14 November 2010
dan aku bersyukur
Kalau bisa memiliki segalanya, kenapa tidak?
Orang yg berbahagia pastilah orang yang memiliki segalanya.
Meskipun orang di sekelilingku berkata bahwa tidak ada orang yang memiliki segalanya di dunia ini, aku tetap percaya pasti ada orang yang memiliki segalanya dan orang itulah yang paling bahagia, paling tidak di dunia ini.
Tahun berlalu dan kutemukan banyak orang berbahagia.
Kutemukan juga banyak orang yang memiliki segalanya.
Tapi tak kutemukan orang yang memiliki segalanya dan berbahagia.
Selalu ada keinginan lebih. Selalu ada penyesalan.
Aku bertanya - tanya,
apakah memang tak mungkin manusia memiliki segalanya dan berbahagia?
Apakah manusia memang harus memilih?
Meski langit adalah batasannya?
Hari ini aku mungkin dapat jawabnya.
"Saat memiliki segalanya, apa artinya lagi bahagia atau tidak?
Memiliki segalanya sama dengan merenggut hak mu,
untuk memilih yang benar - benar kamu inginkan."
ini aku sedikit mengerti jalan pikirannya.
Sedikit mengerti mengapa ia memilih membiarkan sedikit perih di hatinya,
dan menikmatinya.
Sedikit memahami mengapa ia membiarkan ruang untuk hal yg mungkin takkan ia miliki,
dan bersyukur atasnya.
Terkadang amat sangat diperlukan.
Tanpa mencintai diri sendiri dengan sepenuh hati,
mampukah kita mencintai orang lain dengan sebaik - baiknya?
aku mulai berawal lagi, dari nol.
"Bahagia adalah saat aku merasa berkecukupan.
Bersyukur adalah saat aku merasa berkelimpahan.
Dan aku sangat bersyukur"
Orang yg berbahagia pastilah orang yang memiliki segalanya.
Meskipun orang di sekelilingku berkata bahwa tidak ada orang yang memiliki segalanya di dunia ini, aku tetap percaya pasti ada orang yang memiliki segalanya dan orang itulah yang paling bahagia, paling tidak di dunia ini.
Tahun berlalu dan kutemukan banyak orang berbahagia.
Kutemukan juga banyak orang yang memiliki segalanya.
Tapi tak kutemukan orang yang memiliki segalanya dan berbahagia.
Selalu ada keinginan lebih. Selalu ada penyesalan.
Aku bertanya - tanya,
apakah memang tak mungkin manusia memiliki segalanya dan berbahagia?
Apakah manusia memang harus memilih?
Meski langit adalah batasannya?
Hari ini aku mungkin dapat jawabnya.
"Saat memiliki segalanya, apa artinya lagi bahagia atau tidak?
Memiliki segalanya sama dengan merenggut hak mu,
untuk memilih yang benar - benar kamu inginkan."
ini aku sedikit mengerti jalan pikirannya.
Sedikit mengerti mengapa ia memilih membiarkan sedikit perih di hatinya,
dan menikmatinya.
Sedikit memahami mengapa ia membiarkan ruang untuk hal yg mungkin takkan ia miliki,
dan bersyukur atasnya.
Terkadang amat sangat diperlukan.
Tanpa mencintai diri sendiri dengan sepenuh hati,
mampukah kita mencintai orang lain dengan sebaik - baiknya?
aku mulai berawal lagi, dari nol.
"Bahagia adalah saat aku merasa berkecukupan.
Bersyukur adalah saat aku merasa berkelimpahan.
Dan aku sangat bersyukur"
14 November "Bertambah Usia, Berarti berkurang jatah hidup"
"Bertambah usia, berarti berkurang jatah hidup."
Sebuah kalimat ucapan yang diberikan oleh seseorang yang berarti bagiku, selalu terngiang - ngiang di dalam kepala setiap aku berulang tahun dan menerima ucapan selamat dari orang lain.
Seorang blogger yang tulisannya selalu kukagumi dari kejauhan, menuliskan secara singkat pemikirannya tentang ulang tahun. Ia heran mengapa bertambahnya usia harus diberi ucapan selamat. Meski bersyukur karena diberi kesempatan untuk sampai ke titik itu, namun akhir perjalanan juga semakin membayangi. Dan tidak ada yang perlu diselamati ataupun dirayakan dari sebuah pengurangan usia. Maka ia melewati hari lahirnya dengan berpikir tentang kematian. Betul yang dikatakan orang bahwa yang mendewasakan seseorang adalah kesedihan dan kesepian. Namun yang merubah seseorang adalah kematian, dan itu adalah kenyataan.
Mereka yang belum mengenal kematian takkan pernah mengerti tentangnya.
Dan mereka yang telah mengenalnya takkan bisa berpaling kembali seolah tak pernah mengenalnya, apalagi berpaling untuk tak memikirkannya.
Berpikir tentang kematian sebagai tonggak akhir, sama seperti menentukan mercu suar yang ingin dituju saat melabuhkan kapal. Ingin diingat sebagai apa saat mati nanti? Ingin kematian yang seperti apa? Ingin telah menjalani kehidupan yang seperti apa saat mati nanti? Akankah ada penyesalan atau rasa syukur di akhir nanti?
Ulang tahun. Tambah tahun. Apapun namanya, apapun makna asalnya, letaknya tetaplah sangat dekat dengan awal kelahiran dan akhir kematian. Sebagaimana kelahiran telah dilalui dan tak dapat diulang, kematian ada di depan mata dan tak dapat diabaikan. Dan sebagaimana masa tua adalah hasil jejak langkah masa muda dan masa kini, maka kematian adalah not terakhir dalam partitur hidup kita.
Semakin bertambahnya usia, semakin diingatkan untuk bercermin akan hal - hal yang sudah dan belum dilakukan dalam hidup ini. Semakin banyak didoakan, semakin banyak harus mendoakan orang yang memberi doa. Semakin banyak dipercaya, semakin banyak yang harus dipertanggung jawabkan.
Semoga tambahan usia yang diberikan dan dipercayakan padaku ini bisa menjadikan aku lebih berguna dan lebih kuat hingga saat pertanggung jawaban itu tiba.
--------------------------------------------------------------------------
Terima kasih banyak untuk semua sahabat yg sudah menelepon, mengirim SMS, mengirim personal message, menulis comment, dll nya. Semoga doa kalian semua dikabulkan dan dikembalikan pada kalian sama besarnya dengan yang dipinta untukku :)
Terima kasih
Sabtu, 13 November 2010
satu hari lagi :)
debur ombak..
awan yang membiru..
matahari yang mengintip perlahan - lahan...
bergerak dalam ketenangan..
batas ambang waktu dan hidup..
udara terasa ringan..
angin bertiup perlahan..
menyapu segala kegundahan dan masalah...
memberi energi akan sebuah permulaan baru..
lukisan alam..
harmonisasi nyanyian dan melodi...
sebuah kehidupan..
terima kasih untuk satu hari lagi....
awan yang membiru..
matahari yang mengintip perlahan - lahan...
bergerak dalam ketenangan..
batas ambang waktu dan hidup..
udara terasa ringan..
angin bertiup perlahan..
menyapu segala kegundahan dan masalah...
memberi energi akan sebuah permulaan baru..
lukisan alam..
harmonisasi nyanyian dan melodi...
sebuah kehidupan..
terima kasih untuk satu hari lagi....
Jumat, 12 November 2010
Kasih, cukup hayati & lakukan saja.
Tidak ada orang yang tidak membela diri saat dituduh dan dipersalahkan.
Tidak ada orang yang akan berubah saat pengajaran diberikan bersama hukuman.
Tidak ada orang yang termotivasi saat diancam.
Tidak ada orang yang bersungguh - sungguh saat dicela.
Tidak ada orang yang tertarik untuk berdiskusi saat ia diposisikan sebagai si salah.
Dan tidak ada orang yang tertarik untuk benar - benar mengenal dan terlebih mendalami,
saat sesuatu hanya dibicarakan di mulut dan kata.
Pada akhirnya apa yang dilakukan adalah apa yang akan diikuti (dan bukan hanya dilihat).
Jangan berbicara tentang kasih, cukup hayati dan lakukan saja.
Kasih itu, selalu memahami, memaafkan, dan tidak mengadili.
Manusia Terkadang Memang Begitu !
Sadarkah kamu, betapa anehnya hubungan antar manusia?
Kau bisa tidur bersebelahan, tapi dia mungkin bukan orang yang paling mengerti tentangmu.
Kau bisa tak pernah bertemu dengannya, tapi hanya dalam beberapa menit kau tahu kalau dia pasti tahu.
Kau bisa menikah dengannya, tapi dia bukan orang yang ingin pertama kali kau beritahu tentang apa yang menyenangkan dan menyedihkan hari ini.
Kau bisa membencinya, dan karenanya kau tidak bisa betul - betul melupakannya.
Kau bisa tertawa bersamanya, meski tak pernah ingin membaginya.
Kau bisa menangis di dadanya, dan tak pernah mengangapnya ada.
Kau bisa diam bersamanya, tahu bahwa dia akan duduk bersamamu sampai kapanpun juga, dan dia akan selalu tahu mengapa kau duduk diam bersamanya tanpa bertanya sekalipun.
Kau bisa berbicara panjang lebar padanya, dan ia tetap tak mengerti.
Kau bisa mendekap erat - erat mereka yang kau cintai di hatimu, dan mereka membuangmu tanpa sebab.
Kau bisa tak pernah mengetahui, ada dia yang selalu di sisimu, mencintaimu, dan hanya mencintaimu, tanpa pernah kau tahu sampai mati.
Betapa anehnya.Betapapun aku ingin memberitahumu, kau tetap tak pernah memahami apa yang kukatakan.
Marahpun aku tak mampu, karena kau memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Marahpun kau tak ampuh, karena ku memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Karenanya kuterima kau tak mampu. Kuanggap kau memang begitu.
Karenanya terimalah aku memang tak mampu. Anggaplah aku memang begitu.
Setelah itu,..
mungkin kau bisa sedikit lebih memahami..
apa yang kumaksud dengan..,
"Manusia, terkadang memang begitu."
Kau bisa tidur bersebelahan, tapi dia mungkin bukan orang yang paling mengerti tentangmu.
Kau bisa tak pernah bertemu dengannya, tapi hanya dalam beberapa menit kau tahu kalau dia pasti tahu.
Kau bisa menikah dengannya, tapi dia bukan orang yang ingin pertama kali kau beritahu tentang apa yang menyenangkan dan menyedihkan hari ini.
Kau bisa membencinya, dan karenanya kau tidak bisa betul - betul melupakannya.
Kau bisa tertawa bersamanya, meski tak pernah ingin membaginya.
Kau bisa menangis di dadanya, dan tak pernah mengangapnya ada.
Kau bisa diam bersamanya, tahu bahwa dia akan duduk bersamamu sampai kapanpun juga, dan dia akan selalu tahu mengapa kau duduk diam bersamanya tanpa bertanya sekalipun.
Kau bisa berbicara panjang lebar padanya, dan ia tetap tak mengerti.
Kau bisa mendekap erat - erat mereka yang kau cintai di hatimu, dan mereka membuangmu tanpa sebab.
Kau bisa tak pernah mengetahui, ada dia yang selalu di sisimu, mencintaimu, dan hanya mencintaimu, tanpa pernah kau tahu sampai mati.
Betapa anehnya.Betapapun aku ingin memberitahumu, kau tetap tak pernah memahami apa yang kukatakan.
Marahpun aku tak mampu, karena kau memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Marahpun kau tak ampuh, karena ku memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Karenanya kuterima kau tak mampu. Kuanggap kau memang begitu.
Karenanya terimalah aku memang tak mampu. Anggaplah aku memang begitu.
Setelah itu,..
mungkin kau bisa sedikit lebih memahami..
apa yang kumaksud dengan..,
"Manusia, terkadang memang begitu."
Jumat, 22 Oktober 2010
Menilai Manusia
Pada akhirnya, seberapa baiknya seseorang di depanmu, tak perlu waktu lama untk membuka jati dirinya yg sesungguhnya. Kamu hanya perlu menunggu, dan waktu akan menunjukkan segalanya. Pada akhirnya segala yang penting hanya akan menjadi apa yang diinginkannya dan apa yang diharapkannya. Pada akhirnya nilaimu hanya akan menjadi sebesar apa yang dia inginkan darimu.
Mungkin manusia memang begitu. Mungkin memang itu cara manusia berinteraksi. Dan mungkin memang hanya itu satu - satunya guna bagi manusia untuk berhubungan. Kepentingannya sendiri, dan keinginannya sendiri.
Dan setelah itu, mereka akan menghujat segalanya. Dan setelah kecewa, mereka akan menunjukkan taringnya. Dan setelah merasa tersisihkan, mereka akan bersikap seolah tak membutuhkanmu. Dan setelah merasa kamu tidak ada gunanya dan tidak bisa memenuhi keinginannya, mereka akan meninggalkanmu.
Kamu boleh mengatakan apapun yang indah tentang hidup. Kamu juga boleh mengatakan apapun yang sempurna tentang kebaikan. Atau mungkin mengatakan apapun alasan positif tentang sebuah cara untuk berinteraksi, terlebih lagi kamu boleh menyanggah semua yang kutulis di sini.
Karena memang hanya itu cara manusia untuk berkilah dari kejujuran. Hanya itu cara manusia untuk tetap memiliki harapan. Dan hanya itu cara manusia untuk menipu dirinya sendiri. Menyangkal dan menutup mata, sambil berkata "Itu bukan hidupku, Itu bukan aku. Aku akan bahagia." Pembicaraan tanpa makna. Utopia yang basi.
Aku bosan dengan topengmu.
After all, we are only human.
Aren't u?
Mungkin manusia memang begitu. Mungkin memang itu cara manusia berinteraksi. Dan mungkin memang hanya itu satu - satunya guna bagi manusia untuk berhubungan. Kepentingannya sendiri, dan keinginannya sendiri.
Dan setelah itu, mereka akan menghujat segalanya. Dan setelah kecewa, mereka akan menunjukkan taringnya. Dan setelah merasa tersisihkan, mereka akan bersikap seolah tak membutuhkanmu. Dan setelah merasa kamu tidak ada gunanya dan tidak bisa memenuhi keinginannya, mereka akan meninggalkanmu.
Kamu boleh mengatakan apapun yang indah tentang hidup. Kamu juga boleh mengatakan apapun yang sempurna tentang kebaikan. Atau mungkin mengatakan apapun alasan positif tentang sebuah cara untuk berinteraksi, terlebih lagi kamu boleh menyanggah semua yang kutulis di sini.
Karena memang hanya itu cara manusia untuk berkilah dari kejujuran. Hanya itu cara manusia untuk tetap memiliki harapan. Dan hanya itu cara manusia untuk menipu dirinya sendiri. Menyangkal dan menutup mata, sambil berkata "Itu bukan hidupku, Itu bukan aku. Aku akan bahagia." Pembicaraan tanpa makna. Utopia yang basi.
Aku bosan dengan topengmu.
After all, we are only human.
Aren't u?
Rabu, 20 Oktober 2010
Kadang :)
kadang,
ada beberapa hal yang menarikku begitu kuat,
membuat jiwaku tak mampu memalingkan wajahnya,
membuat segalanya tak dapat kembali ke titik awal..
dan semuanya berubah tanpa dapat ku cegah..
kadang,
ada saat - saat di mana aku mengerti,
sedekat apapun di depan mataku,
tak selalu teraih oleh gapaianku,
dan ada yang bahkan tak boleh kuraih..
kamu,
ada di titik kadang itu.
ada beberapa hal yang menarikku begitu kuat,
membuat jiwaku tak mampu memalingkan wajahnya,
membuat segalanya tak dapat kembali ke titik awal..
dan semuanya berubah tanpa dapat ku cegah..
kadang,
ada saat - saat di mana aku mengerti,
sedekat apapun di depan mataku,
tak selalu teraih oleh gapaianku,
dan ada yang bahkan tak boleh kuraih..
kamu,
ada di titik kadang itu.
Saat cinta tak lagi indah bagimu
saat semua pilihan sama buruknya,
semuanya menyakitimu sama dalamnya,
dan tiada pilihan untuk tak memilih,
yakinlah apapun pilihanmu,
kau akan selalu mampu untuk berbahagia.
satu kesedihan akan membuka seribu pintu kebahagiaan..
satu kepahitan akan membawa seribu suka cita..
sebagaimana tiada seribu tanpa satu,
yakinlah akan selalu ada seribu satu untukmu.
saat cinta tak lagi indah bagimu,
tak perlu menangisinya lagi.
satu bait teriring untukmu,
hanya demi segala yang terbaik,
dan terindah bagimu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
tak perlu kau jelaskan, aku mengerti semuanya.
apapun pilihanmu, kuyakin itu yg terbaik untukmu.
rangkaian penjelasan takkan berarti apapun,
asalkan air matamu berhenti menetes, cukuplah sudah..
kau bahagia,
itu yg terpenting bagiku.
semuanya menyakitimu sama dalamnya,
dan tiada pilihan untuk tak memilih,
yakinlah apapun pilihanmu,
kau akan selalu mampu untuk berbahagia.
satu kesedihan akan membuka seribu pintu kebahagiaan..
satu kepahitan akan membawa seribu suka cita..
sebagaimana tiada seribu tanpa satu,
yakinlah akan selalu ada seribu satu untukmu.
saat cinta tak lagi indah bagimu,
tak perlu menangisinya lagi.
satu bait teriring untukmu,
hanya demi segala yang terbaik,
dan terindah bagimu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
tak perlu kau jelaskan, aku mengerti semuanya.
apapun pilihanmu, kuyakin itu yg terbaik untukmu.
rangkaian penjelasan takkan berarti apapun,
asalkan air matamu berhenti menetes, cukuplah sudah..
kau bahagia,
itu yg terpenting bagiku.
untuk hari ini
setiap hari aku belajar memahami, seringnya memahami hati dan pikiran.
sisi lainnya, aku hanya ingin dihargai.
setiap aku mengenal orang, aku berusaha membuang sluruh pikiran negatif yang sudah berkarak diotakku ini.
ini teori gampang, tapi pengucapannya apakah sama dengan yang dikerjakan ???
disiplin sungguh sulit, jadi orang yang lebih baikpun juga sangat sulit :(
hari ini, sangat belajar untuk menghargai orang dan seseorang :)
sisi lainnya, aku hanya ingin dihargai.
setiap aku mengenal orang, aku berusaha membuang sluruh pikiran negatif yang sudah berkarak diotakku ini.
ini teori gampang, tapi pengucapannya apakah sama dengan yang dikerjakan ???
disiplin sungguh sulit, jadi orang yang lebih baikpun juga sangat sulit :(
hari ini, sangat belajar untuk menghargai orang dan seseorang :)
Selasa, 19 Oktober 2010
Happy Ending !
Percaya pada suatu hari angin bisa berhenti .
waktu hujan turun, pergilah untuk mencari teman .
Aku tak sendirian, tapi cinta sudah datang .
Kalau cinta pergi, maka biarkan dia pergi .
Agar waktu menerima kenyataan .
Cinta yang lain akan datang paling awal .
Waktu yang tidak tenang sudah pergi menjauh .
Aku mulai menghargai perasaan hati ini .
Mengatakan perasaan mencintai .
Aku merasa mulai sekarang bisa sangat bahagia .
Yang aku pahami disetiap waktu, cinta sedang belajar :)
Senin, 18 Oktober 2010
Diantara
aku dan diantara yang lain
aku masih meraba ini, dalam warna kalian seperti di area abu-abu.
tak mengenal jelas, tapi kalian sangat dekat denganku.
aku senang, tapi ini aneh, terkadang bingung, dan sering takut .
sementara aku masih (memikirkan nasibku hari ini) selamatkah, atau masih bisa diselamatkan. entah....
namun sekarang banyak diantara yang saling mewarnai, membuatku menjadi lupa diri.
ini aku, atau perasaanku ??
tak usah berbicara kalbu orang lain, kalbu sendiripun masih dipenuhi tanda tanya.
gejala ini akhirnya untuk apa, dan buat siapa.
aku masih diantara dan masih belum bisa :(
Senin, 11 Oktober 2010
Berharap & Kecewa
Mungkin orang - orang yang pesimis akan berkata..,
"Jangan berharap, maka kamu takkan kecewa."
Dan sebagian orang yang optimis akan berkata..,
"Berharaplah terus, dan jangan pernah kecewa."
Namun aku pikir,
berharap dan kecewa adalah dua hal yang berbeda.
berharap adalah sesuatu yang bisa dikendalikan awalnya,
sementara kecewa adalah sesuatu yang bisa dikendalikan akhirnya.
Mungkin yang paling benar adalah,
"Tidak perlu berharap dan tidak perlu kecewa."
Dengan demikian kakiku tetap berpijak di atas tanah..
dan segala yang ada akan tetap ada,
sementara segala yang tiada tak perlu diadakan.
Tidak perlu berharap dan tidak perlu kecewa..
Yang ada dan tiada, tak perlu mesti ada.
"Jangan berharap, maka kamu takkan kecewa."
Dan sebagian orang yang optimis akan berkata..,
"Berharaplah terus, dan jangan pernah kecewa."
Namun aku pikir,
berharap dan kecewa adalah dua hal yang berbeda.
berharap adalah sesuatu yang bisa dikendalikan awalnya,
sementara kecewa adalah sesuatu yang bisa dikendalikan akhirnya.
Mungkin yang paling benar adalah,
"Tidak perlu berharap dan tidak perlu kecewa."
Dengan demikian kakiku tetap berpijak di atas tanah..
dan segala yang ada akan tetap ada,
sementara segala yang tiada tak perlu diadakan.
Tidak perlu berharap dan tidak perlu kecewa..
Yang ada dan tiada, tak perlu mesti ada.
Rabu, 29 September 2010
Ingat Akhirat
setiap perbuatan pasti ada ganjaran dengan sanksi sanksi nya
setiap penglihatan yang salah pasti ada ganjaran dengan sanksi sanksinya.
nikmat itu buat kita lupa diri, lupa siapa yg pemberi nikmat itu.
lupa siapa pemberi nafasmu.
lupa siapa yang memberimu perasaan, hati, pikiran.
nikmatmu, nikmat yang telah habis dan kau lupa bersyukur.
wahai penikmat dosa
wahai pembuat dosa
masih bisa tenangkah kalian hidup dan bernafas didunia ini ?
tak punya rasa malukah kau sebagai mahluk Allah yang sangat kecil
membangkang dan menjadi lupa diri, lupa dengan dosa, lupa dengan neraka.
tak pernah kah dalam benak pikiranmu berusaha masuk kedalam pintu syurga.
kelam memang hidup dan matimu, tak lagi kembali menjadi baik, kau bahkan tak tau siapa dirimu
kau hancur, dengan sebilah kekayaan dan nafsu dunia.
aku bukan malaikat yang selalu mengingatkanmu ketika jatuh
aku bukan malaikat yang selalu menemanimu ketika membuat dosa
aku bukan malaikat yang selalu mengayomimu ketika lupa membuat dosa
aku bukan malaikat yang juga menikmati hasil ulahmu sendiri
hiduplah sebagaimana mestinya
sebagaimana Allah telah menciptakan manusia
sebagaimana Allah telah memerintahkan larangannya
sebagaimana Allah telah menguji umat-umatnya
aku bukan penghitung dosa
aku manusia, sepertimu.
tapi
bukan pembuat dosa melainkan kesalahan yang harus ku perbaiki.
semoga kalian selamat diakhirat.
setiap penglihatan yang salah pasti ada ganjaran dengan sanksi sanksinya.
nikmat itu buat kita lupa diri, lupa siapa yg pemberi nikmat itu.
lupa siapa pemberi nafasmu.
lupa siapa yang memberimu perasaan, hati, pikiran.
nikmatmu, nikmat yang telah habis dan kau lupa bersyukur.
wahai penikmat dosa
wahai pembuat dosa
masih bisa tenangkah kalian hidup dan bernafas didunia ini ?
tak punya rasa malukah kau sebagai mahluk Allah yang sangat kecil
membangkang dan menjadi lupa diri, lupa dengan dosa, lupa dengan neraka.
tak pernah kah dalam benak pikiranmu berusaha masuk kedalam pintu syurga.
kelam memang hidup dan matimu, tak lagi kembali menjadi baik, kau bahkan tak tau siapa dirimu
kau hancur, dengan sebilah kekayaan dan nafsu dunia.
aku bukan malaikat yang selalu mengingatkanmu ketika jatuh
aku bukan malaikat yang selalu menemanimu ketika membuat dosa
aku bukan malaikat yang selalu mengayomimu ketika lupa membuat dosa
aku bukan malaikat yang juga menikmati hasil ulahmu sendiri
hiduplah sebagaimana mestinya
sebagaimana Allah telah menciptakan manusia
sebagaimana Allah telah memerintahkan larangannya
sebagaimana Allah telah menguji umat-umatnya
aku bukan penghitung dosa
aku manusia, sepertimu.
tapi
bukan pembuat dosa melainkan kesalahan yang harus ku perbaiki.
semoga kalian selamat diakhirat.
Go Die
Aku mengantuk.
Dan hanya satu yang kupikirkan saat ini.
Aku ingin membuang duri dalam jantung ini.
Meskipun itu berarti aku harus mati bersamanya
Dan hanya satu yang kupikirkan saat ini.
Aku ingin membuang duri dalam jantung ini.
Meskipun itu berarti aku harus mati bersamanya
Selasa, 28 September 2010
Cinta dan Hidup !
Kata orang, cinta datang seperti pencuri.
Siapa yang didatangi, kapan datangnya, ga ada yang tahu.
Menurut gw cinta justru malah merupakan pemahaman terbesar dalam hidup ini.
Ga ada yang namanya pencuri, ataupun dicuri, atau apapun.
Pada saat yang tepat, waktu yang tepat, somehow somewhat, gue bisa benar - benar mengenali diri gue sendiri dan memahami apa yang gue rasa.
Gue bisa jadi diri sendiri and bisa menyadari bahwa dia yang membuat gue jadi diri sendiri.
Itu cinta.
Tapi cinta bukan pernikahan.
Cinta bukan komitmen.
Cinta bukan pengertian.
Cinta bukan sayang.
Ternyata hidup butuh lebih dari sekedar cinta.
Ternyata cinta tidak mampu berdiri sendiri.
Ternyata pada akhirnya...cinta memang hanya setangkai mawar.
Cantik dilihat, namun berduri untuk disentuh.
Dan disekeliling mawar itu...banyak pagar yang melindungi.
Pada akhirnya tanpa itu semua.., mawar tetaplah mawar.
Bukan gw menghujat cinta, bukan juga gw pesimis akan cinta.
Tapi gw sadar..gue ga butuh cinta biasa.
Karena cinta gw juga bukan cinta emperan.
Ini bukan tentang materi, uang, emas, kekuasaan, karir, dan lainnya.
Karena gue ga butuh orang lain untuk bisa meraih itu semua.
Ini tentang hidup.
Kalau saat mencinta, gue bisa menjadi diri sendiri...
Saat gue hidup, hidup gue ga membiarkan gue untuk menjadi diri sendiri.
Saat gue sadar dia yang membuat gue bisa jadi diri sendiri..
Saat itu juga gue sadar, gue akan segera kehilangan diri gue sendiri itu juga bersama dia.
Dan gue jadi bertanya - tanya,
memangnya gue bukan diri gue sendiri kalau tanpa dia?
Jadi siapa gue kalau dia ga ada?
Siapa gue selama belum kenal dia?
Siapa gue saat dia meninggal nanti?
Kalau setiap manusia setidaknya memiliki satu cinta sejati...
adakah dia adalah sejati..?
Ini tentang hidup.
Kalau kau mencinta..
Mampukah kau mencinta dengan menukar hidupmu?
Jangan katakan cintamu abadi.., kalau apa itu abadi pun. kau tak pernah tahu.
Jangan katakan cintamu untukku.., kalau hidupmu pun tak bisa kau miliki seutuhnya.
Dan jangan katakan cinta adalah kebebasan..
karena sejak lama aku telah menyadari...
kebebasan hanya milik mereka yang tak mampu berjuang dan menikmati hidup.
Dan apakah kamu masih bisa berkata "demi cinta" ?
Siapa yang didatangi, kapan datangnya, ga ada yang tahu.
Menurut gw cinta justru malah merupakan pemahaman terbesar dalam hidup ini.
Ga ada yang namanya pencuri, ataupun dicuri, atau apapun.
Pada saat yang tepat, waktu yang tepat, somehow somewhat, gue bisa benar - benar mengenali diri gue sendiri dan memahami apa yang gue rasa.
Gue bisa jadi diri sendiri and bisa menyadari bahwa dia yang membuat gue jadi diri sendiri.
Itu cinta.
Tapi cinta bukan pernikahan.
Cinta bukan komitmen.
Cinta bukan pengertian.
Cinta bukan sayang.
Ternyata hidup butuh lebih dari sekedar cinta.
Ternyata cinta tidak mampu berdiri sendiri.
Ternyata pada akhirnya...cinta memang hanya setangkai mawar.
Cantik dilihat, namun berduri untuk disentuh.
Dan disekeliling mawar itu...banyak pagar yang melindungi.
Pada akhirnya tanpa itu semua.., mawar tetaplah mawar.
Bukan gw menghujat cinta, bukan juga gw pesimis akan cinta.
Tapi gw sadar..gue ga butuh cinta biasa.
Karena cinta gw juga bukan cinta emperan.
Ini bukan tentang materi, uang, emas, kekuasaan, karir, dan lainnya.
Karena gue ga butuh orang lain untuk bisa meraih itu semua.
Ini tentang hidup.
Kalau saat mencinta, gue bisa menjadi diri sendiri...
Saat gue hidup, hidup gue ga membiarkan gue untuk menjadi diri sendiri.
Saat gue sadar dia yang membuat gue bisa jadi diri sendiri..
Saat itu juga gue sadar, gue akan segera kehilangan diri gue sendiri itu juga bersama dia.
Dan gue jadi bertanya - tanya,
memangnya gue bukan diri gue sendiri kalau tanpa dia?
Jadi siapa gue kalau dia ga ada?
Siapa gue selama belum kenal dia?
Siapa gue saat dia meninggal nanti?
Kalau setiap manusia setidaknya memiliki satu cinta sejati...
adakah dia adalah sejati..?
Ini tentang hidup.
Kalau kau mencinta..
Mampukah kau mencinta dengan menukar hidupmu?
Jangan katakan cintamu abadi.., kalau apa itu abadi pun. kau tak pernah tahu.
Jangan katakan cintamu untukku.., kalau hidupmu pun tak bisa kau miliki seutuhnya.
Dan jangan katakan cinta adalah kebebasan..
karena sejak lama aku telah menyadari...
kebebasan hanya milik mereka yang tak mampu berjuang dan menikmati hidup.
Dan apakah kamu masih bisa berkata "demi cinta" ?
Senin, 27 September 2010
Dilematis
aku memasuki abad ke 14
dalam abad ke 14, aku masih menyadari bahwa DIA masih sering berada diduniaku
muncul seperti matahari, selalu menyinari terkadang redup karna mendung datang dan DIA hilang
namun, saat kubutuhkan DIA selalu hadir, ini yang aku pertanyakan.
aku belum bisa meluangkan waktu buat orang lain, yang hanya sekedar menemani bicara.
tapi aku lebih merasa puas jika orang lain lebih meluangkan waktu untuk aku bicara.
ironis ..........
matahari yang kukenal sekarang tak sering menyinari.
mungkin DIA tahu sekarang ini aku memang tak lagi membutuhkan sinarnya
tapi benar adanya, manusia sangat membutuhkan cahaya.
tapi darimana cahaya itu datang ?
kumau itu bukan cahaya lewat dan hanya mampir dikala aku sedang membutuhkannya saja
memang cahaya seharusnya selalu menyinari.
belum pernah sebelummnya kudapat cahaya seperti ini
lembut, bersahaja.
ya, aku memang sudah menemukan cahaya yang hilang itu
namun belum kumiliki sepenuhnya.
terkadang malam yang gelap, cahaya itu hadir dan menemaniku tidur sampai pagi.
ku tahu ini nikmatmu Tuhan.
walau dalam hidup ini, takkan pernah ada yang abadi.
walau sinar itu ku yakin akan mati dan bisa redup.
ku mohon sisakan 1 yang terang untukku.
dalam kehidupan nyataku.
opie
dalam abad ke 14, aku masih menyadari bahwa DIA masih sering berada diduniaku
muncul seperti matahari, selalu menyinari terkadang redup karna mendung datang dan DIA hilang
namun, saat kubutuhkan DIA selalu hadir, ini yang aku pertanyakan.
aku belum bisa meluangkan waktu buat orang lain, yang hanya sekedar menemani bicara.
tapi aku lebih merasa puas jika orang lain lebih meluangkan waktu untuk aku bicara.
ironis ..........
matahari yang kukenal sekarang tak sering menyinari.
mungkin DIA tahu sekarang ini aku memang tak lagi membutuhkan sinarnya
tapi benar adanya, manusia sangat membutuhkan cahaya.
tapi darimana cahaya itu datang ?
kumau itu bukan cahaya lewat dan hanya mampir dikala aku sedang membutuhkannya saja
memang cahaya seharusnya selalu menyinari.
belum pernah sebelummnya kudapat cahaya seperti ini
lembut, bersahaja.
ya, aku memang sudah menemukan cahaya yang hilang itu
namun belum kumiliki sepenuhnya.
terkadang malam yang gelap, cahaya itu hadir dan menemaniku tidur sampai pagi.
ku tahu ini nikmatmu Tuhan.
walau dalam hidup ini, takkan pernah ada yang abadi.
walau sinar itu ku yakin akan mati dan bisa redup.
ku mohon sisakan 1 yang terang untukku.
dalam kehidupan nyataku.
opie
Minggu, 26 September 2010
September Akhir
ini yang buat aku merasa tenang
selalu ada kejutan, perasaan, pandangan, senyuman.
semua hal baru yang kudapat setiap aku bangun pagi hari
Perubahan, yang tak biasa
ini yang buat aku merasa tenang
aku akan berjumpa dengan orang-orang yang aku sayang setiap bangun pagi
setiap hal kecil yang kudapat, bisa menjadi aku lebih besar
setiap hal besar yang kudapat, bisa menjadi aku lebih bijaksana
ya, ini yang buat aku merasa lebih tenang
September Akhir ini
akan ku ukir sendiri
...
Rabu, 22 September 2010
ga ada judul.
Penderitaan tiada akhir, seniman berkata "untuk apa hidup dibuat beban, hidupmu hanya 1 kali, kesempatan hidup dibumi hanya 1 kali, berpikirlah wahai manusia pembuat dosa, perbaiki dan masih belum terlambat"
enjoying !
enjoying !
Kamis, 16 September 2010
Sinar
Sinar mata itu hadir lagi.
Dulu aku selalu suka caramu memandangku dalam - dalam
saat hendak mengungkapkan sesuatu yg takkan pernah kau ucapkan.
Tak kusangka, sampai sekarang, aku masih menyukai sinar itu.
Dan hatiku masih tetap berdegup kencang memandang cahaya matamu yang kecoklatan.
Harus kuakui, aku menikmatinya.
Menikmati adrenalin yang bergerak di seluruh tubuhku,
menikmati desiran alirah darahku yang lebih cepat,
dan menikmati saat - saat di mana aku berusaha memahami makna sinar itu.
Andaikan waktu bisa berjalan lebih lambat,
dan kenyataan bisa sedikit terhambat,
aku ingin bisa menikmatinya lebih lama lagi.
-------------------------------
"Cinta" itu katamu.
Dulu aku selalu suka caramu memandangku dalam - dalam
saat hendak mengungkapkan sesuatu yg takkan pernah kau ucapkan.
Tak kusangka, sampai sekarang, aku masih menyukai sinar itu.
Dan hatiku masih tetap berdegup kencang memandang cahaya matamu yang kecoklatan.
Harus kuakui, aku menikmatinya.
Menikmati adrenalin yang bergerak di seluruh tubuhku,
menikmati desiran alirah darahku yang lebih cepat,
dan menikmati saat - saat di mana aku berusaha memahami makna sinar itu.
Andaikan waktu bisa berjalan lebih lambat,
dan kenyataan bisa sedikit terhambat,
aku ingin bisa menikmatinya lebih lama lagi.
-------------------------------
"Cinta" itu katamu.
Ingatan
Bukan, bukan tentang kesedihan.
Rasa sedih itu sudah hilang sejak ..... aku bahkan tak mampu mengingatnya.
Bukan juga tentang perasaan yg tersisa.
Rasa itu sudah terbasuh habis sejak lama.
Bukan pula tentang ingatan yang tersisa.
Aku sudah tak pernah mengingatnya lagi selama yang bisa kuingat.
Ini bukan tentang proses mengingat dan melupakan,
melainkan tentang ingatan, yang meski terlupakan, kadang meminta untuk kembali diingat.
Seringkali, yg terberat dari semuanya bukan saat sedih, sakit, ataupun saat meradang.
Melainkan saat sudah mengikhlaskan, namun kehangatan itu tertinggal di ujung jemari dan relung hati saat mata terbuka di pagi hari.
Dan kau tahu, tidak ada yg bisa kau lakukan atasnya.
Rasa sedih itu sudah hilang sejak ..... aku bahkan tak mampu mengingatnya.
Bukan juga tentang perasaan yg tersisa.
Rasa itu sudah terbasuh habis sejak lama.
Bukan pula tentang ingatan yang tersisa.
Aku sudah tak pernah mengingatnya lagi selama yang bisa kuingat.
Ini bukan tentang proses mengingat dan melupakan,
melainkan tentang ingatan, yang meski terlupakan, kadang meminta untuk kembali diingat.
Seringkali, yg terberat dari semuanya bukan saat sedih, sakit, ataupun saat meradang.
Melainkan saat sudah mengikhlaskan, namun kehangatan itu tertinggal di ujung jemari dan relung hati saat mata terbuka di pagi hari.
Dan kau tahu, tidak ada yg bisa kau lakukan atasnya.
ini salah
aku tahu
ini bagian yang sangat terlarang.
aku ingat bahwa aku masih punya hati yang ingin ku bahagiakan
walau itu 2 tahun sekali datang untukku.
aku ingin
kebahagiaan itu kunikmati
tapi masih saja keadaan yang membuat kebahagiaanku merasa berkurang
dan tertahan denganmu tanpa kutemui sebuah jawaban
aku tahu
perasaaan ini sekarang ada untuknya
tapi aku takut kebahagiaan yang kumiliki sekarang akan berkurang
aku takut takkan bisa menikmatinya lagi
berada didalam cintamu yang tak bisa disampaikan dengan alam nyata
Ya Alloh yang memiliki dunia dan akhirat
aku tahu ini kesalahan
tapi akan kubuat bagaimana perasaan ini dan akan benar dimata mereka ??????
aku tahu, hanya Engkau yang dapat menolongku
Kamis, 09 September 2010
Wahai Sang Pencipta !
Wahai sang pencipta hati dan perasaan ini
Masih saja ku jaga perlahan hati ini dan belum cukup ku buka untuknya
Masih saja ku jaga perlahan hati ini dan belum cukup ku buka untuknya
Dalam waktu yang masih menunggu ditepian jam
Masih sajakah waktu mengharapkan cinta itu menjadi nyata dan ada
Namun masih saja dalam benak ini masih terlihat kurang
Kurang Batin untuk siap disakiti lagi
Kurang Tegar untuk siap ditinggalkan lagi
Kurang Rela sewaktu-waktu nanti aku yang akan meninggalkan dia lebih dulu
Selalu ada teori kebencian dan penyesalan. yang tak pernah urung selesai
Wahai sang pencipta hati dan perasaan ini
Masih sajakah kujaga satu bentuk cintamu yang masih suci
Belum dijamah oleh siapapun
Wahai sang pencipta hati dan perasaan ini
Ku tau takkan ada tulang rusuk yang tertukar
Itu akan menyatu nanti dan pasti sampai dan berpulang ke pemiliknya
Aku takkan pernah menyesal pernah dekat beberapa lelaki
Aku tahu mereka tak sempurna
Tapi Engkau lebih tau mana yang baik untukku kelak
Wahai sang pencipta hati dan perasaan ini
Inilah aku apa adanya
Rabu, 08 September 2010
Akar ATAU Sayap ?
Bagaimana caranya memilih dan menjalani hidup seperti apa yang kita inginkan, sementara sejak dulu kita dicekoki dengan pernyataan dan dogma bahwa 'setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya' ?"
Sebuah pertanyaan dari seorang sahabat, yang membuatku berpikir cukup panjang.
Saat apa yang diinginkan seseorang berbeda dengan apa yang diinginkan orang tuanya, siapa yang salah? Atau mungkin keinginannya itu yang salah?
Saat seseorang tidak dapat berhasil dalam kehidupan yang bukan pilihannya, siapa yang salah? Atau mungkin pilihannya menuruti siapa, itu yang salah?
Saat hidup dikatakan sebagai jalinan pilihan, dan seorang anak tidak dapat menggunakan hak pilihnya untuk hidupnya sendiri, siapa yang salah? Atau hidupnya yang salah?
Akhirnya aku hanya bisa menjawab dengan klise.
Orang tua hanya bisa memberi dua hal pada anaknya, yaitu sayap kebebasan untuk terbang tinggi ke langit atau akar kokoh yang menancap kuat pada tanah.
Yang manakah orang tuamu?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terlahir sebagai anak siapa,
akan dibesarkan dengan cara bagaimana,
seorang anak tak bisa memilihnya.
Karena itu, keinginan untuk hidup seperti apa,
dan menjadi manusia yang bagaimana,
harus bisa dipilih oleh diri sendiri.
- Beyond The Sea -
Sebuah pertanyaan dari seorang sahabat, yang membuatku berpikir cukup panjang.
Saat apa yang diinginkan seseorang berbeda dengan apa yang diinginkan orang tuanya, siapa yang salah? Atau mungkin keinginannya itu yang salah?
Saat seseorang tidak dapat berhasil dalam kehidupan yang bukan pilihannya, siapa yang salah? Atau mungkin pilihannya menuruti siapa, itu yang salah?
Saat hidup dikatakan sebagai jalinan pilihan, dan seorang anak tidak dapat menggunakan hak pilihnya untuk hidupnya sendiri, siapa yang salah? Atau hidupnya yang salah?
Akhirnya aku hanya bisa menjawab dengan klise.
Orang tua hanya bisa memberi dua hal pada anaknya, yaitu sayap kebebasan untuk terbang tinggi ke langit atau akar kokoh yang menancap kuat pada tanah.
Yang manakah orang tuamu?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Terlahir sebagai anak siapa,
akan dibesarkan dengan cara bagaimana,
seorang anak tak bisa memilihnya.
Karena itu, keinginan untuk hidup seperti apa,
dan menjadi manusia yang bagaimana,
harus bisa dipilih oleh diri sendiri.
- Beyond The Sea -
Aku Bahkan Tak Yakin Aku Akan Tahu ...
Setiap orang pasti mempertanyakan keberadaannya di dalam dunia ini.
Itu pasti. Aku yakin, tidak ada orang yang tidak pernah bingung tentang hidup di dunia ini.
Kukira aku sudah melewati masa - masa itu.
Karena terakhir kuingat, sampai kemarin aku masih yakin dengan apa yang kujalani dan semua yang kuketahui benar adanya.
Namun manusia mungkin memang terus berubah.
Ah, salah. Berubah itu pasti. Meski belum tentu berkembang ya.
Aku tak tahu apakah aku sekedar berubah, atau memang ini adalah sebuah perkembangan. Hampir semua yang kuyakini kini berbalik membuatku bertanya - tanya.
Semua nilai yang kumiliki hilang dalam sekejap, dan aku seperti kembali ke titik nol.
Mengulang semua dari awal, dan terus belajar lagi untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Mungkin memang manusia tak pernah boleh berhenti belajar ya?
Atau memang takkan pernah bisa berhenti?
Aku yang sekarang, merasa apa yang kupikirkan begitu jauh dari apa yang kulakukan.
Bukan dalam arti nilai benar dan salah, melainkan hanya sekedar merasa terpisah dari dunia nyata yang kuhidupi sekarang ini.
Menjalani hari - hari seperti melayang. Memandang segala yang tak sempat terpandang.
Berusaha mengerti dan mendengar apa yang mungkin terlewatkan.
Sedikit aneh rasanya. Aku seperti tidak memiliki kontrol atas diriku sendiri.
Tapi di sisi lain, tenang dan damai rasanya.
Inikah kenikmatan dari tidak memiliki apa - apa?
Kehidupan tanpa rasa khawatir dan tanpa rasa takut?
Pemikiran tanpa dogma dan tanpa penilaian? Mungkin memang tak semua harus dinilai?
Inikah mungkin sebuah kebebasan yang tak pernah eksis?
Inikah kesadaran manusia?
Entahlah. Aku belum tahu. Aku bahkan tak yakin aku akan tahu.
Tapi aku cukup menikmatinya.
Itu pasti. Aku yakin, tidak ada orang yang tidak pernah bingung tentang hidup di dunia ini.
Kukira aku sudah melewati masa - masa itu.
Karena terakhir kuingat, sampai kemarin aku masih yakin dengan apa yang kujalani dan semua yang kuketahui benar adanya.
Namun manusia mungkin memang terus berubah.
Ah, salah. Berubah itu pasti. Meski belum tentu berkembang ya.
Aku tak tahu apakah aku sekedar berubah, atau memang ini adalah sebuah perkembangan. Hampir semua yang kuyakini kini berbalik membuatku bertanya - tanya.
Semua nilai yang kumiliki hilang dalam sekejap, dan aku seperti kembali ke titik nol.
Mengulang semua dari awal, dan terus belajar lagi untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Mungkin memang manusia tak pernah boleh berhenti belajar ya?
Atau memang takkan pernah bisa berhenti?
Aku yang sekarang, merasa apa yang kupikirkan begitu jauh dari apa yang kulakukan.
Bukan dalam arti nilai benar dan salah, melainkan hanya sekedar merasa terpisah dari dunia nyata yang kuhidupi sekarang ini.
Menjalani hari - hari seperti melayang. Memandang segala yang tak sempat terpandang.
Berusaha mengerti dan mendengar apa yang mungkin terlewatkan.
Sedikit aneh rasanya. Aku seperti tidak memiliki kontrol atas diriku sendiri.
Tapi di sisi lain, tenang dan damai rasanya.
Inikah kenikmatan dari tidak memiliki apa - apa?
Kehidupan tanpa rasa khawatir dan tanpa rasa takut?
Pemikiran tanpa dogma dan tanpa penilaian? Mungkin memang tak semua harus dinilai?
Inikah mungkin sebuah kebebasan yang tak pernah eksis?
Inikah kesadaran manusia?
Entahlah. Aku belum tahu. Aku bahkan tak yakin aku akan tahu.
Tapi aku cukup menikmatinya.
Pernahkah ?
pernah merasa hatimu berat?
entah karena hari yg buruk, masalah yg bertumpuk, atau bahkan alasan tak jelas..,
yang pasti hatimu begitu berat, dan kamu begitu ingin melepaskannya sejenak..,
menitipkannya pada seseorang yang kamu yakini bisa menjaganya ?
namun ia tak berada di sana..?
saat kata tak bisa lagi mewakili apa yang dirasakan..,
kegundahan dan keresahan hati bagaikan riak - riak laut yang kelam..,
dan kamu tak bisa lagi menjadi dirimu yang kamu kenal..,
hingga kamu mencari - cari seseorang untuk berpegang ?
dan ia tak ada di sana...?
dan ia tak lagi ada di sana..?
dan ia tak pernah lagi ada di sana..?
dan hatimu tak pernah lagi terasa ringan..?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku pernah.
Dan ternyata kebersamaan tak selalu mampu mengalahkan keabadian.
entah karena hari yg buruk, masalah yg bertumpuk, atau bahkan alasan tak jelas..,
yang pasti hatimu begitu berat, dan kamu begitu ingin melepaskannya sejenak..,
menitipkannya pada seseorang yang kamu yakini bisa menjaganya ?
namun ia tak berada di sana..?
saat kata tak bisa lagi mewakili apa yang dirasakan..,
kegundahan dan keresahan hati bagaikan riak - riak laut yang kelam..,
dan kamu tak bisa lagi menjadi dirimu yang kamu kenal..,
hingga kamu mencari - cari seseorang untuk berpegang ?
dan ia tak ada di sana...?
dan ia tak lagi ada di sana..?
dan ia tak pernah lagi ada di sana..?
dan hatimu tak pernah lagi terasa ringan..?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku pernah.
Dan ternyata kebersamaan tak selalu mampu mengalahkan keabadian.
Menyusuri Lorong Waktu
Kadang mungkin air mata memang perlu dikeluarkan meski tak jelas untuk apa.
Kadang mungkin hati memang sedang bersusah meski tak terasa.
Kadang mungkin ruang memang dibutuhkan meski tak nyata.
Dan kenangan dibutuhkan meski hanya dalam ingatan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Berjalan bersamamu, menyusuri lorong waktu.
Membicarakan hal - hal tak penting meski selenting.
Melakukan hal - hal biasa yang kini begitu terasa.
Mengumpulkan sedikit rasa yang mungkin tinggal asa.
Cerita itu masih ada.
Meski segalanya tak lagi sama.
Kadang mungkin hati memang sedang bersusah meski tak terasa.
Kadang mungkin ruang memang dibutuhkan meski tak nyata.
Dan kenangan dibutuhkan meski hanya dalam ingatan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Berjalan bersamamu, menyusuri lorong waktu.
Membicarakan hal - hal tak penting meski selenting.
Melakukan hal - hal biasa yang kini begitu terasa.
Mengumpulkan sedikit rasa yang mungkin tinggal asa.
Cerita itu masih ada.
Meski segalanya tak lagi sama.
Memandangi Langit
"Aku tau kamu selalu tau apa yang harus kamu lakukan. Tapi kapan terakhir kalinya kamu membiarkan dirimu melakukan apa yang betul - betul kamu inginkan?"
Mungkin aku memang terlalu sering lupa untuk membebaskan gadis kecil yang ada di dalam sini. Terima kasih karena selalu mengingatkanku.
Berbicara denganmu memang selalu membuatku nyaman. Hingga terkadang aku bertanya - tanya, darimana datangnya semua ketenangan dan keteduhanmu itu.
Mungkin itu sebabnya aku selalu suka memandangi langit.
Mungkin aku memang terlalu sering lupa untuk membebaskan gadis kecil yang ada di dalam sini. Terima kasih karena selalu mengingatkanku.
Berbicara denganmu memang selalu membuatku nyaman. Hingga terkadang aku bertanya - tanya, darimana datangnya semua ketenangan dan keteduhanmu itu.
Mungkin itu sebabnya aku selalu suka memandangi langit.
Minggu, 05 September 2010
menjawab untuk bertanya
Kita berhak hidup bahagia, tapi apakah hidup harus bahagia?
Mengejar kebahagiaan, berakhir sampai di mana?
Mengukur kebahagiaan, di mana tolak ukurnya?
Takut tak bahagia, kapan selesainya?
Semakin banyak aku bertanya, semakin aku tak menemukan jawabnya.
Sementara hidup terus berjalan, dan waktu tak berhenti berdetik.
Saat aku berhenti bertanya, hidup justru menunjukkannya.
Tidak harus bahagia, pun sengsara.
Bukan tentang kebutuhan dan keinginan, apalagi pilihan.
Hanya deretan dari kesadaran, pemahaman, dan pemaknaan.
Mungkin selama ini aku bukan bertanya untuk mendapat jawaban..,
melainkan menjawab agar dapat bertanya lagi.
Mengejar kebahagiaan, berakhir sampai di mana?
Mengukur kebahagiaan, di mana tolak ukurnya?
Takut tak bahagia, kapan selesainya?
Semakin banyak aku bertanya, semakin aku tak menemukan jawabnya.
Sementara hidup terus berjalan, dan waktu tak berhenti berdetik.
Saat aku berhenti bertanya, hidup justru menunjukkannya.
Tidak harus bahagia, pun sengsara.
Bukan tentang kebutuhan dan keinginan, apalagi pilihan.
Hanya deretan dari kesadaran, pemahaman, dan pemaknaan.
Mungkin selama ini aku bukan bertanya untuk mendapat jawaban..,
melainkan menjawab agar dapat bertanya lagi.
senandung hati
Di antara semua yang ada, dan semua yang kau miliki, pernahkah kau merasa ingin lepas dan ingin membuang semuanya?
Di antara semua pilihan yang ada, dan semua yang bisa kau pilih, pernahkah kau merasa ingin menghilang dan membuat pilihan yang berbeda dari semua yang ada?
Di antara masa lalu, hari ini, dan masa depan.., pernahkah kau ingin waktu berhenti dan menikmatinya sendiri?
Di antara semua kebahagiaan, kesedihan, dan kesepian..., pernahkah kau bahkan tak ingin perduli dengan semua itu lagi dan membiarkan sebuah rasa baru mengisimu?
Entah hingga kapan kenyamanan yang tersedia ini dapat menahanku.
Entah hingga kapan kebersamaan yang ada ini dapat mengikatku.
Entah hingga kapan ketersediaan yang ada ini tetap berarti bagiku.
Satu yang kutahu pasti,
kedua sayapku sudah mulai mengembang.
dan waktunya pasti akan datang.
Saat aku tak mampu lagi lari dari kebebasan.
Saat aku..menjadi diriku sendiri..sendirian.
Di antara semua pilihan yang ada, dan semua yang bisa kau pilih, pernahkah kau merasa ingin menghilang dan membuat pilihan yang berbeda dari semua yang ada?
Di antara masa lalu, hari ini, dan masa depan.., pernahkah kau ingin waktu berhenti dan menikmatinya sendiri?
Di antara semua kebahagiaan, kesedihan, dan kesepian..., pernahkah kau bahkan tak ingin perduli dengan semua itu lagi dan membiarkan sebuah rasa baru mengisimu?
Entah hingga kapan kenyamanan yang tersedia ini dapat menahanku.
Entah hingga kapan kebersamaan yang ada ini dapat mengikatku.
Entah hingga kapan ketersediaan yang ada ini tetap berarti bagiku.
Satu yang kutahu pasti,
kedua sayapku sudah mulai mengembang.
dan waktunya pasti akan datang.
Saat aku tak mampu lagi lari dari kebebasan.
Saat aku..menjadi diriku sendiri..sendirian.
Senin, 30 Agustus 2010
sudah kuputuskan ...
Siapa yang mengira ini akan terjadi dalam hidupku, bersimpuh dan berlutut aku menggenangi airmata ini berbulan-bulan .Tanpa aku tau do'a ini akan kutunjukan kepada siapa, dan buat apa . Dalam hidupku kau takkan pernah menjadi nyata, tapi kau mengajakku benar benar masuk kedalam hidup 'Seorang Penyair Kelas Kakap' Memuja muja tanpa bergeming untuk bernafas, tatkala suatu hari kau telah menyapu berandaku disaat itu aku dilanda kesepian namunkah itu wajar ketika kau mempersilahkan kedua wanita masuk dalam hidup dan hatimu. Dengan diam-diam kau tlah menyihir seorang putri berparas polos menjelma sebagai budak asuh hati dan keegoisanmu.
Bukan aku yang menghempas kau menjadi lelaki hina, tapi keadaanku dan keadaan hatimu. Kau tak bisa paksakan sebuah jalan menjadi jalan berujung indah kalo kau tak kuat menerima pecahan bola api yang masih bersarang dipenyamun hatimu. mohon dengar, dan aku memastikan 'Keadaanlah yang menulis ini diatas hidupmu, 'kau takkan pernah bisa bersatu walau waktu yang terus kau tunggu' ...
Novita 'opie' Apriyani
Selasa, 03 Agustus 2010
mengintimidasi
aku sering melakukan hal ini sebagai tanda aku masih mampu bertahan diantara mereka, aku mengintimidasi dengan diam dan memperhatikan orang yang ku anggap targetnya, mungkin ini hal bodoh. tapi aku sering melakukan hal ini jika otak dan kendali ku sudah mentok, menebak-nebak kadang membuatku selalu berpikiran negatif, bahkan bisa membencinya walau hanya mengintimidasi dengan diam dan hanya melihat.
Rabu, 28 Juli 2010
Sorry
Kuharap ini keputusan yang baik
Walau perasaaan ini terlalu sering membohongi, aku minta maaf
Kika dalam kehadiran aku ini membuatmu ragu
Atau membebani dalam pikiranmu, aku minta maaf
aku bukan perempuan yang benar-benar sabar dan
Bisa menerima semuanya, aku minta maaf
Aku hanya ingin kita melupakan dan merelakkan, aku minta maaf
Aku mungkin begitu baik
Sampai aku lupa dengan siapa aku bicara, aku minta maaf
Aku akan bisa belajar dalam kesalahan ini
Mungkin karma yang kuterima sudah berakhir
Namun maaf aku tak dapat kembali untuk menggapai semuanya
Aku akan pergi dan mulai melupakan semuanya
Aku ingin mencari sosok pria yang benar, bukan janji ataupun citacita
Selasa, 27 Juli 2010
Hanya sahabat
ini kembali kekisah duniaku
pernahkah kalian mengalami apa itu seorang sahabat untuk kita, namun segalanya berubah karna ada cinta didalamnya? pernah kah kalian mencoba melupakan perasaan itu?
kenapa bisa terjadi sahabat menjadi cinta? ataukah ada perasaan yang lebih sehingga kebaikan orang itu disalah artikan, bagaimana perasaan itu berubah, tapi ada satu bongkahan hati yang tak tau perasaan itu berubah. Sempat hatiku bertanya tanya dengan ini semua, untuk apa ia melakukan hal seperti ini padaku? Apa ia tidak tahu apa arti sebuah sahabat, Yah sahabat adalah sahabat, aku tidak bisa merubah itu dengan teka teki perasaanmu.
kalo ia mengharapkan itu lebih, jangan salahkan aku & cinta, tapi keadaan kenapa waktu pertama kali bertemu, kita menjadi sahabat?
- teman itu bukan alasan-
aku sungguh sungguh terperangah oleh kisahku sendiri, aku baru merasakan, benar benar merasakan perasaan asing yang masuk dalam hati ini. Jangan salahkan aku yang tak pernah peka maksud baikmu, tapi memang inilah aku yang 'cuek' Aku tahu ini memang tak biasa bagiku, namun aku harus mencoba menerimanya kembali sebagai sahabat.
namun ku tahu didalam ini ada perasaan yang mengganjal, perasaan yang selalu dianggap salah & perasaan yang selalu dianggap benar, aku ingin hilang dari dimensi kehidupan dimana aku dan dia bertemu.
Aku takut ini salahku, salah kenapa aku begitu baik terhadap orang, aku begitu perhatian terhadap mereka, tapi aku baru belajar bahwa persahabatan segala-galanya, mereka ada tanpa aku yang tak lagi dicintai oleh siapa-siapa.
Ya Allah, aku hidup didunia-MU ini nikmat-MU perjalanan kami begitu sulit.
Aku tahu ini hanyalah sementara, sunguh jalan menuju seseorang yang lebih dewasa itu, begitu sulit. bagaimana kita menyelesaikan masalah ini? dan untuk apa kita saling mempergunjingkan diri sendiri & orang lain yang tidak ada ujung penyelesaiannya .
kuharap ini adalah awal kita membangun sebuah cinta yang baru lagi, teman.
- beri kita jalan untuk hadapi ini sama-sama -
Senin, 26 Juli 2010
Masih adakah tempat itu, untuk hati kita ?
Assalamualaikum
kali ini aku menulis lagi bedasarkan pengalaman aku sendiri.
aku telah memahami seseorang manusia yang terbelenggu karena cintanya sendiri, dia berusaha seluruh hidup dan perhatiannya untuk satu kekasihnya yang ia cintai.
aku mulai memahami, namun aku tak banyak bicara karena aku bukan manusia yang pandai menasehati orang.
Apakah kalian tahu? hidup tak lain hanyalah menerima dan memberi , mereka datang dan pergi, mereka hilang dan dapat kembali, ada satu hal yang membuat aku yakin bahwa cinta akan berpulang dan kembali ketempat asalnya yaitu H A T I . Seberapa besar penyesalan kita terhadap orang yang begitu kita sayangi , karna perbuatannya itulah proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hati yang didewasa2kan.
aku bisa tegar dimata orang lain tapi didalam hati ini ' A K U S A N G A A T R A P U H '
kalian hanya tahu, sikapku yang sangat bijaksana menasehati orang tapi dalam hati ini aku berkata ' AKU TAKUT UNTUK TIDAK BISA MENERIMA KENYATAAN INI '
atau aku yang pura pura tak pernah peduli, padahal dalam hati ini berkata
' AKU MENYESAL TAK MELAKUKANNYA '
sekarang lihat sudah berapa banyak orang yang telah aku sakiti, dengan aku berbohong pada hatiku sendiri. orang yang aku tipui itu mungkin saja mudah untuk memaafkan aku TAPI coba sedikit memahami hatiku, apakah Hati yang sering aku bohongi itu, dapat menerima lukanya, luka karna keegoisanku ? .....
Lalu Kebahagiaan apa yang aku cari ?
kebahagiaan yang sesungguhnya bukan kebahagiaan yang dikasihani oleh orang lain bukan pula kebahagiaan yang dibuat-buat.
Wassalamualaikum
Langganan:
Postingan (Atom)