Hidup memang gak akan lebih baik dari ini ...
ini suatu kenyataan..
tanpa perlu bertanya pada mereka yang bisa melihatpun..
aku bisa melihat kenyataan di hadapanku.
Yang tak kusuka,
tak mampu kutepis
yang tak kuharapkan,
tak mampu kuhindari
hatiku menjerit...
namun mulutku bungkam.
ingin menangis..
namun tak setetespun mampu meleleh..
segalanya seolah diatur..
hanya untuk sebuah kalimat
"segalanya terjadi untuk yang terbaik"
inikah hidup??
Senin, 29 November 2010
Minggu, 28 November 2010
Seperti Bermain Ular Tangga
Kadang dapat dadu 6 dan dapat kesempatan sekali lagi.
Kadang dapat dengan anak tangga tinggi dan melesat ke depan melewati yang lain.
Kadang dapat dengan anak tangga rendah dan sedikit senang karena kejutan yang ada.
Kadang dapat ular dan turun ke bawah dengan sedih, tanpa perlu diperjelas berapa panjang ularnya atau turun berapa nomor.
Hidup itu seperti bermain ular tangga.
Bedanya adalah batas nomornya tidak ada.
Kalaupun ada, bukan kita yang menentukannya.
Masihkah kamu menggerutu dan merengut saat yang lain sampai duluan di kotak nomor 100?
Masihkah kamu menggerutu dan merengut saat ular menghadang kotak hidupmu?
Nikmati saja.
Dan mainkan hingga selesai. :)
Pada akhirnya yang berarti bukanlah siapa pemenangnya,
melainkan berapa banyak orang yang dengan setia menunggumu menyelesaikan permainan sampai akhir.
Bukan begitu? :)
berakal, beradab, berhati, dan bernyawa.
Tak adakah tempat dan masa di mana semua orang dapat menghargai nyawa dan hidup satu dengan yang lainnya ?
Tak adakah kesempatan dan waktu di mana semua orang dapat merasa bahagia, hidup dengan penuh rasa syukur dan saling menghargai ?
Ataukah memang manusia tercipta untuk dihakimi?
Seseorang pernah berkata,
"Hanya manusia yang membunuh demi keinginan dan kepuasan. Tidak binatang, apalagi tumbuhan."
Dunia memang telah semakin tua dan mungkin sedikit demi sedikit membusuk,
namun setidaknya sampai dunia ini benar - benar membusuk dan hancur karena waktu,
hiduplah dengan selayaknya sebagai seorang manusia yang berakal, beradab, berhati, dan bernyawa.
Untuk sebuah alasan
Agaknya aku mulai memahami apa yg kamu maksud dulu.
Semua ini tidak penting sama sekali.
Tidak membuat hidupku lebih merana ataupun lebih bahagia.
Semua ini hanya kepuasan batin semata.
Kepuasan untuk bisa menyatu dan menjadi diri sendiri,
Agaknya aku mulai memahami apa yang ingin kau cari waktu itu dengan 'membunuh' nya.
Aku sepertinya sedang berada di titik itu.
-----------------------
Untuk sebuah alasan..
Hidup
Semua ini tidak penting sama sekali.
Tidak membuat hidupku lebih merana ataupun lebih bahagia.
Semua ini hanya kepuasan batin semata.
Kepuasan untuk bisa menyatu dan menjadi diri sendiri,
Agaknya aku mulai memahami apa yang ingin kau cari waktu itu dengan 'membunuh' nya.
Aku sepertinya sedang berada di titik itu.
-----------------------
Untuk sebuah alasan..
Hidup
Jumat, 26 November 2010
seperti ilalang dan rumput liar
Hanya untuk segala yang ada saat ini
Aku berterima kasih padamu
Hanya untuk segala yang akan datang
Aku doakan agar terwujud
Hanya untuk segala yang lalu
Aku masih berpegang
Namun..
Segalanya tak bisa selamanya
Dan selamanya tak bisa untuk segalanya
Terlebih kau bukan segalanya bagiku
dan selamanya bukan milik kita
Namun..
Kau pasti mengerti
Karena segalanya takkan selamanya
Dan selamanya tak bisa untuk segala
Seperti ilalang dan rumput liar
begitulah sebuah hidup berputar
terkadang diinjak, terkadang dicabut
Sabtu, 20 November 2010
Berpikir Sederhana ajaa
Pernah sekali waktu di SMA dulu, hampir semua anak di kelas dapat merah di mata pelajaran fisika. Yang membuat merah adalah semua soal, yang hampir semua anak menjawabnya dengan salah. hahahahaahaha, Soalnya cukup panjang, Siapa sangka jawabannya sangat sederhana??? Hahh >,<
Teringat ucapan guru fisikaku waktu itu, "Kalian mikirnya terlalu rumit sih. Selalu berpikir bahwa soal yang diberikan adalah soal sulit dan rumit, jadi mikir jawabannya berputar - putar dengan berbagai kemungkinan. Padahal soalnya mudah dan sekali jalan sudah langsung beres." (Kata Pak Jaya, guru bantuan SMA 58)
Kurasa, aku masih sering jatuh di perangkap yang sama. Berpikir terlalu rumit untuk sebuah masalah yang sederhana. Memandangnya terlalu jauh hanya karena keterangan yang terlihat begitu banyak, padahal inti pertanyaannya sederhana.
Sayangnya, sekarang tidak ada yang bisa memberikan kunci jawaban untuk membandingkan benar atau salahnya. Bahkan tidak ada yang bisa memberikan jawaban mana yang benar.
Benar selalu abu - abu.
Benar selalu tergantung situasi dan kondisi.
Benar selalu tergantung pilihan.
Dan terkadang ...
Benar tidak lagi penting.
Berpikir sederhana, sepertinya begitu sulit di jaman yang serba rumit ini. Otakku telah terbiasa dilatih untuk melakukan antisipasi akan berbagai hal. Memastikan untuk meminimalisasi masalah yang akan kuhadapi dan kulalui. Mengkalkulasi daya dan usaha yang harus diberikan, berbanding dengan hasil yang kuterima. Hingga hampir tidak dapat kupercaya apabila masih ada masalah yang sederhana di jaman ini.
Namun ternyata sungguh. Masalah yang ada, seringkali begitu sederhana. Dan penyelesaiannya terlebih sederhana lagi, hingga membuatku terheran - heran dan bertanya - tanya bagaimana masalah sesederhana itu bisa muncul ke permukaan menjadi sebuah gelombang besar? Sebesar nilai fisikaku, angka nol besar satu halaman penuh lembar ujian, hahahahahahahahah. bangga :D
Berpikir sederhana. Sepertinya aku masih harus belajar lagi.
-------------------------------------------------------------------------
Kalau ingin mencari solusi, jangan mencari dukungan.
Jangan bertanya tentang kebahagiaan pada orang yang tak tahu apa itu bahagia. Bertanyalah pada orang yang tak tahu apa itu sedih. Ada kalanya dan ada baiknya pedih disimpan di dalam hati. Agar darahmu tak mengental karena kekurangan air mata. Berhentilah mempermasalahkan kalau pada akhirnya kamu harus melupakannya. Permasalahkan hanya hal - hal yang harus kau ingat seumur hidupmu."
Berhentilah khawatir akan masa depan. Selama itu tidak membunuhmu hari ini, (itu) tidak akan membunuhmu besok. Coba hilangkan bagian untuk dirimu, dan coba tambahkan bagian orang lain. Berpikirlah sederhana. Masalah di dunia ini tak lebih dari masalah sederhana yang ditunda - tunda penyelesaiannya.
Teringat ucapan guru fisikaku waktu itu, "Kalian mikirnya terlalu rumit sih. Selalu berpikir bahwa soal yang diberikan adalah soal sulit dan rumit, jadi mikir jawabannya berputar - putar dengan berbagai kemungkinan. Padahal soalnya mudah dan sekali jalan sudah langsung beres." (Kata Pak Jaya, guru bantuan SMA 58)
Kurasa, aku masih sering jatuh di perangkap yang sama. Berpikir terlalu rumit untuk sebuah masalah yang sederhana. Memandangnya terlalu jauh hanya karena keterangan yang terlihat begitu banyak, padahal inti pertanyaannya sederhana.
Sayangnya, sekarang tidak ada yang bisa memberikan kunci jawaban untuk membandingkan benar atau salahnya. Bahkan tidak ada yang bisa memberikan jawaban mana yang benar.
Benar selalu abu - abu.
Benar selalu tergantung situasi dan kondisi.
Benar selalu tergantung pilihan.
Dan terkadang ...
Benar tidak lagi penting.
Berpikir sederhana, sepertinya begitu sulit di jaman yang serba rumit ini. Otakku telah terbiasa dilatih untuk melakukan antisipasi akan berbagai hal. Memastikan untuk meminimalisasi masalah yang akan kuhadapi dan kulalui. Mengkalkulasi daya dan usaha yang harus diberikan, berbanding dengan hasil yang kuterima. Hingga hampir tidak dapat kupercaya apabila masih ada masalah yang sederhana di jaman ini.
Namun ternyata sungguh. Masalah yang ada, seringkali begitu sederhana. Dan penyelesaiannya terlebih sederhana lagi, hingga membuatku terheran - heran dan bertanya - tanya bagaimana masalah sesederhana itu bisa muncul ke permukaan menjadi sebuah gelombang besar? Sebesar nilai fisikaku, angka nol besar satu halaman penuh lembar ujian, hahahahahahahahah. bangga :D
Berpikir sederhana. Sepertinya aku masih harus belajar lagi.
-------------------------------------------------------------------------
Kalau ingin mencari solusi, jangan mencari dukungan.
Jangan bertanya tentang kebahagiaan pada orang yang tak tahu apa itu bahagia. Bertanyalah pada orang yang tak tahu apa itu sedih. Ada kalanya dan ada baiknya pedih disimpan di dalam hati. Agar darahmu tak mengental karena kekurangan air mata. Berhentilah mempermasalahkan kalau pada akhirnya kamu harus melupakannya. Permasalahkan hanya hal - hal yang harus kau ingat seumur hidupmu."
Berhentilah khawatir akan masa depan. Selama itu tidak membunuhmu hari ini, (itu) tidak akan membunuhmu besok. Coba hilangkan bagian untuk dirimu, dan coba tambahkan bagian orang lain. Berpikirlah sederhana. Masalah di dunia ini tak lebih dari masalah sederhana yang ditunda - tunda penyelesaiannya.
Minggu, 14 November 2010
dan aku bersyukur
Kalau bisa memiliki segalanya, kenapa tidak?
Orang yg berbahagia pastilah orang yang memiliki segalanya.
Meskipun orang di sekelilingku berkata bahwa tidak ada orang yang memiliki segalanya di dunia ini, aku tetap percaya pasti ada orang yang memiliki segalanya dan orang itulah yang paling bahagia, paling tidak di dunia ini.
Tahun berlalu dan kutemukan banyak orang berbahagia.
Kutemukan juga banyak orang yang memiliki segalanya.
Tapi tak kutemukan orang yang memiliki segalanya dan berbahagia.
Selalu ada keinginan lebih. Selalu ada penyesalan.
Aku bertanya - tanya,
apakah memang tak mungkin manusia memiliki segalanya dan berbahagia?
Apakah manusia memang harus memilih?
Meski langit adalah batasannya?
Hari ini aku mungkin dapat jawabnya.
"Saat memiliki segalanya, apa artinya lagi bahagia atau tidak?
Memiliki segalanya sama dengan merenggut hak mu,
untuk memilih yang benar - benar kamu inginkan."
ini aku sedikit mengerti jalan pikirannya.
Sedikit mengerti mengapa ia memilih membiarkan sedikit perih di hatinya,
dan menikmatinya.
Sedikit memahami mengapa ia membiarkan ruang untuk hal yg mungkin takkan ia miliki,
dan bersyukur atasnya.
Terkadang amat sangat diperlukan.
Tanpa mencintai diri sendiri dengan sepenuh hati,
mampukah kita mencintai orang lain dengan sebaik - baiknya?
aku mulai berawal lagi, dari nol.
"Bahagia adalah saat aku merasa berkecukupan.
Bersyukur adalah saat aku merasa berkelimpahan.
Dan aku sangat bersyukur"
Orang yg berbahagia pastilah orang yang memiliki segalanya.
Meskipun orang di sekelilingku berkata bahwa tidak ada orang yang memiliki segalanya di dunia ini, aku tetap percaya pasti ada orang yang memiliki segalanya dan orang itulah yang paling bahagia, paling tidak di dunia ini.
Tahun berlalu dan kutemukan banyak orang berbahagia.
Kutemukan juga banyak orang yang memiliki segalanya.
Tapi tak kutemukan orang yang memiliki segalanya dan berbahagia.
Selalu ada keinginan lebih. Selalu ada penyesalan.
Aku bertanya - tanya,
apakah memang tak mungkin manusia memiliki segalanya dan berbahagia?
Apakah manusia memang harus memilih?
Meski langit adalah batasannya?
Hari ini aku mungkin dapat jawabnya.
"Saat memiliki segalanya, apa artinya lagi bahagia atau tidak?
Memiliki segalanya sama dengan merenggut hak mu,
untuk memilih yang benar - benar kamu inginkan."
ini aku sedikit mengerti jalan pikirannya.
Sedikit mengerti mengapa ia memilih membiarkan sedikit perih di hatinya,
dan menikmatinya.
Sedikit memahami mengapa ia membiarkan ruang untuk hal yg mungkin takkan ia miliki,
dan bersyukur atasnya.
Terkadang amat sangat diperlukan.
Tanpa mencintai diri sendiri dengan sepenuh hati,
mampukah kita mencintai orang lain dengan sebaik - baiknya?
aku mulai berawal lagi, dari nol.
"Bahagia adalah saat aku merasa berkecukupan.
Bersyukur adalah saat aku merasa berkelimpahan.
Dan aku sangat bersyukur"
14 November "Bertambah Usia, Berarti berkurang jatah hidup"
"Bertambah usia, berarti berkurang jatah hidup."
Sebuah kalimat ucapan yang diberikan oleh seseorang yang berarti bagiku, selalu terngiang - ngiang di dalam kepala setiap aku berulang tahun dan menerima ucapan selamat dari orang lain.
Seorang blogger yang tulisannya selalu kukagumi dari kejauhan, menuliskan secara singkat pemikirannya tentang ulang tahun. Ia heran mengapa bertambahnya usia harus diberi ucapan selamat. Meski bersyukur karena diberi kesempatan untuk sampai ke titik itu, namun akhir perjalanan juga semakin membayangi. Dan tidak ada yang perlu diselamati ataupun dirayakan dari sebuah pengurangan usia. Maka ia melewati hari lahirnya dengan berpikir tentang kematian. Betul yang dikatakan orang bahwa yang mendewasakan seseorang adalah kesedihan dan kesepian. Namun yang merubah seseorang adalah kematian, dan itu adalah kenyataan.
Mereka yang belum mengenal kematian takkan pernah mengerti tentangnya.
Dan mereka yang telah mengenalnya takkan bisa berpaling kembali seolah tak pernah mengenalnya, apalagi berpaling untuk tak memikirkannya.
Berpikir tentang kematian sebagai tonggak akhir, sama seperti menentukan mercu suar yang ingin dituju saat melabuhkan kapal. Ingin diingat sebagai apa saat mati nanti? Ingin kematian yang seperti apa? Ingin telah menjalani kehidupan yang seperti apa saat mati nanti? Akankah ada penyesalan atau rasa syukur di akhir nanti?
Ulang tahun. Tambah tahun. Apapun namanya, apapun makna asalnya, letaknya tetaplah sangat dekat dengan awal kelahiran dan akhir kematian. Sebagaimana kelahiran telah dilalui dan tak dapat diulang, kematian ada di depan mata dan tak dapat diabaikan. Dan sebagaimana masa tua adalah hasil jejak langkah masa muda dan masa kini, maka kematian adalah not terakhir dalam partitur hidup kita.
Semakin bertambahnya usia, semakin diingatkan untuk bercermin akan hal - hal yang sudah dan belum dilakukan dalam hidup ini. Semakin banyak didoakan, semakin banyak harus mendoakan orang yang memberi doa. Semakin banyak dipercaya, semakin banyak yang harus dipertanggung jawabkan.
Semoga tambahan usia yang diberikan dan dipercayakan padaku ini bisa menjadikan aku lebih berguna dan lebih kuat hingga saat pertanggung jawaban itu tiba.
--------------------------------------------------------------------------
Terima kasih banyak untuk semua sahabat yg sudah menelepon, mengirim SMS, mengirim personal message, menulis comment, dll nya. Semoga doa kalian semua dikabulkan dan dikembalikan pada kalian sama besarnya dengan yang dipinta untukku :)
Terima kasih
Sabtu, 13 November 2010
satu hari lagi :)
debur ombak..
awan yang membiru..
matahari yang mengintip perlahan - lahan...
bergerak dalam ketenangan..
batas ambang waktu dan hidup..
udara terasa ringan..
angin bertiup perlahan..
menyapu segala kegundahan dan masalah...
memberi energi akan sebuah permulaan baru..
lukisan alam..
harmonisasi nyanyian dan melodi...
sebuah kehidupan..
terima kasih untuk satu hari lagi....
awan yang membiru..
matahari yang mengintip perlahan - lahan...
bergerak dalam ketenangan..
batas ambang waktu dan hidup..
udara terasa ringan..
angin bertiup perlahan..
menyapu segala kegundahan dan masalah...
memberi energi akan sebuah permulaan baru..
lukisan alam..
harmonisasi nyanyian dan melodi...
sebuah kehidupan..
terima kasih untuk satu hari lagi....
Jumat, 12 November 2010
Kasih, cukup hayati & lakukan saja.
Tidak ada orang yang tidak membela diri saat dituduh dan dipersalahkan.
Tidak ada orang yang akan berubah saat pengajaran diberikan bersama hukuman.
Tidak ada orang yang termotivasi saat diancam.
Tidak ada orang yang bersungguh - sungguh saat dicela.
Tidak ada orang yang tertarik untuk berdiskusi saat ia diposisikan sebagai si salah.
Dan tidak ada orang yang tertarik untuk benar - benar mengenal dan terlebih mendalami,
saat sesuatu hanya dibicarakan di mulut dan kata.
Pada akhirnya apa yang dilakukan adalah apa yang akan diikuti (dan bukan hanya dilihat).
Jangan berbicara tentang kasih, cukup hayati dan lakukan saja.
Kasih itu, selalu memahami, memaafkan, dan tidak mengadili.
Manusia Terkadang Memang Begitu !
Sadarkah kamu, betapa anehnya hubungan antar manusia?
Kau bisa tidur bersebelahan, tapi dia mungkin bukan orang yang paling mengerti tentangmu.
Kau bisa tak pernah bertemu dengannya, tapi hanya dalam beberapa menit kau tahu kalau dia pasti tahu.
Kau bisa menikah dengannya, tapi dia bukan orang yang ingin pertama kali kau beritahu tentang apa yang menyenangkan dan menyedihkan hari ini.
Kau bisa membencinya, dan karenanya kau tidak bisa betul - betul melupakannya.
Kau bisa tertawa bersamanya, meski tak pernah ingin membaginya.
Kau bisa menangis di dadanya, dan tak pernah mengangapnya ada.
Kau bisa diam bersamanya, tahu bahwa dia akan duduk bersamamu sampai kapanpun juga, dan dia akan selalu tahu mengapa kau duduk diam bersamanya tanpa bertanya sekalipun.
Kau bisa berbicara panjang lebar padanya, dan ia tetap tak mengerti.
Kau bisa mendekap erat - erat mereka yang kau cintai di hatimu, dan mereka membuangmu tanpa sebab.
Kau bisa tak pernah mengetahui, ada dia yang selalu di sisimu, mencintaimu, dan hanya mencintaimu, tanpa pernah kau tahu sampai mati.
Betapa anehnya.Betapapun aku ingin memberitahumu, kau tetap tak pernah memahami apa yang kukatakan.
Marahpun aku tak mampu, karena kau memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Marahpun kau tak ampuh, karena ku memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Karenanya kuterima kau tak mampu. Kuanggap kau memang begitu.
Karenanya terimalah aku memang tak mampu. Anggaplah aku memang begitu.
Setelah itu,..
mungkin kau bisa sedikit lebih memahami..
apa yang kumaksud dengan..,
"Manusia, terkadang memang begitu."
Kau bisa tidur bersebelahan, tapi dia mungkin bukan orang yang paling mengerti tentangmu.
Kau bisa tak pernah bertemu dengannya, tapi hanya dalam beberapa menit kau tahu kalau dia pasti tahu.
Kau bisa menikah dengannya, tapi dia bukan orang yang ingin pertama kali kau beritahu tentang apa yang menyenangkan dan menyedihkan hari ini.
Kau bisa membencinya, dan karenanya kau tidak bisa betul - betul melupakannya.
Kau bisa tertawa bersamanya, meski tak pernah ingin membaginya.
Kau bisa menangis di dadanya, dan tak pernah mengangapnya ada.
Kau bisa diam bersamanya, tahu bahwa dia akan duduk bersamamu sampai kapanpun juga, dan dia akan selalu tahu mengapa kau duduk diam bersamanya tanpa bertanya sekalipun.
Kau bisa berbicara panjang lebar padanya, dan ia tetap tak mengerti.
Kau bisa mendekap erat - erat mereka yang kau cintai di hatimu, dan mereka membuangmu tanpa sebab.
Kau bisa tak pernah mengetahui, ada dia yang selalu di sisimu, mencintaimu, dan hanya mencintaimu, tanpa pernah kau tahu sampai mati.
Betapa anehnya.Betapapun aku ingin memberitahumu, kau tetap tak pernah memahami apa yang kukatakan.
Marahpun aku tak mampu, karena kau memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Marahpun kau tak ampuh, karena ku memang hanya tak mampu. Bukan tak mau.
Karenanya kuterima kau tak mampu. Kuanggap kau memang begitu.
Karenanya terimalah aku memang tak mampu. Anggaplah aku memang begitu.
Setelah itu,..
mungkin kau bisa sedikit lebih memahami..
apa yang kumaksud dengan..,
"Manusia, terkadang memang begitu."
Langganan:
Postingan (Atom)