Sabtu, 25 Desember 2010

Diam, Sendiri dan Sepi !

Kata - kata bernyawa adalah sayap bagi para pemikir,
karena tanpanya, esensi kehidupan hanyalah ilusi,
dan pendalaman diri hanyalah mimpi.

Menulis adalah media untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. Kupikir itu benar adanya. Paling tidak itu benar bagiku. Dan bukan hanya menulis, tapi juga membaca, merefleksikan pemikiran, dan bercermin akan setiap hal yg dilakukan setiap harinya. Semuanya memungkinkanku untuk lebih mengenal diriku lebih dalam lagi.

Namun menulis dan membaca, memang mendapat tempat khusus di hatiku. Mengapa? Karena aku merasa menjadi manusia dan menjadi diriku sendiri saat melakukan keduanya. Ada kesunyian dan ketenangan. Ada jeda, ruang, perjalanan, dan diam. 

Di dalam diam, ada kesadaran. Aku setuju dengan pernyataan itu. Diam, sendiri, dan sepi, merupakan tiga hal yang menjadi kombinasi paling baik untuk melatih kesadaran. Lucunya, tiga hal itu juga yg paling dihindari oleh manusia. 

Coba saja tanyakan pada orang - orang di sekitar kita tentang hal apa yg paling mereka benci? Biasanya 2 diantara 3 akan menjawab: menunggu, makan sendirian, dan merasa sepi. Tiga hal yang membuat kita menyadari sepenuhnya akan kehidupan ini. Sebuah perjalanan sendirian, tanpa kepastian, dan sesungguhnya amat sangat sunyi. 

Aku pernah berlari sejauh mungkin dari semua itu. Mencoba berada di antara keramaian, berharap semua rasa itu tidak akan menghampiriku, berharap perjalanan yang kulalui tidak seperti itu, berharap semuanya hanya ilusiku semata. Dan yang terjadi adalah, titik akhir merenggut segalanya dariku. 

Ya. Segalanya. 

Hingga tiada tersisa. Kosong melompong. Aku terhenti di titik itu. Ditemani diam, sendiri, dan sepi. Menyeretku hingga ke dasar yang terdalam, dan mengunciku di sana. Lalu segalanya berhenti. 

Dalam kesadaran, ada penerimaan. Aku juga merasa itu benar adanya. Saat segalanya berhenti bagiku, hanya kekosongan yang ada. Kosong itu hampa. Tidak bisa dihalau atau direngkuh, namun tidak bisa juga untuk tidak dirasakan. Ia ada, dalam tiada. Ia tiada, dalam ada. Tidak bisa disanggah, pun tidak bisa disetujui. 

Hingga entah bagaimana, aku bisa menerimanya. Menerima bahwa begitulah adanya. Tidak bisa dijelaskan, juga tidak bisa dianggap tidak jelas. Hanya begitulah adanya. Dan begitu saja jualah aku menerimanya. 

Aku diam. Aku menyadarinya. Dan aku menerimanya. 

Hanya begitulah adanya. Tidak benar, tidak salah. Tidak ada, tidak tiada. 
Diam, sendiri, sepi. Tiga hal yang akan selalu membawa kita kepada diri kita yg terdalam.

-------------------------------------
Kata - kata bernyawa, 
seringkali mereka yang menjadi gerbang dalam sebuah perjalanan kesadaran.