Mungkin aku memang manusia yang kurang bersyukur. Kuterima itu dengan lapang. Mungkin aku manusia yang paling egois di dunia ini. Itupun kuterima dengan lapang. Kalau itu dapat membuat segalanya menjadi lebih baik bagimu, kuterima semuanya dengan lapang.
Namun aku tak mungkin menjadi seseorang yang bukan diriku sendiri. Kalau ada orang yang menjanjikan sesuatu yang tak pasti padamu, kujamin itu bukan aku. Kalau ada orang yang bisa berpura - pura dan berbohong demi dirimu, kujamin itu juga bukan aku. karena aku tak pernah percaya ada kebahagiaan yang berdiri dengan menginjak apapun, termasuk kebenaran dan kejujuran, atas alasan dan atas pilihan apapun.
Atau benar kata orang tua? Bahwa cinta hanya masalah waktu, situasi, dan kondisi?
Mengerti, amatlah berbeda dengan memahami. Kamu mungkin mengerti, tapi kamu tak pernah ada di posisiku untuk bisa memahamiku. Aku pun mengerti, tapi aku tak bisa memahami yang kau maksud.
Masalahnya adalah, bagaimana caranya melakukan sesuatu yang kau mengerti tapi tak kau pahami mengapa dan bagaimana harus melakukannya?
Andaikan kata - kata dan air mata cukup untuk menunjukkan dan memahami, mungkin dunia ini sudah jadi surga.
Kalau kusetujui saja pendapatmu bahwa aku hanya memprioritaskan diriku sendiri, selesaikah semua masalahmu? Karena setelah kupikir lebih jauh, aku tak terlalu keberatan dengan semua itu. Aku, sejak dulu, memang manusia yang egois dan individualis. Tak ada bedanya bagiku, apapun sebutannya.
Dan masihkah sekarang kau bertanya, mengapa ada kalanya aku ingin membunuh dan membuang cinta ini jauh - jauh?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar