Bukan aku tak menghargai kenangan, namun masa lalu memanglah telah berlalu.
Bersamanya ada banyak hal yang dengan susah payah berhasil kulalui, kulepaskan.
Ada banyak hal yang dengan sekuat tenaga berhasil kuubah.
Dan aku tak terlalu bersemangat untuk mengulang ataupun mengingatnya kembali.
Bagiku segalanya sederhana saja, apa yang terpenting saat ini, itulah yang kujaga baik - baik.
Apa yang ada di depanku, itulah yang kujelang.
Apa yang tak perlu kucari, takkan kukejar.
Apa yang tak perlu kupermasalahkan, takkan kupikirkan.
Apa yang nantinya akan kulupakan, takkan kusimpan.
Kalau toh nantinya aku harus menjalaninya, maka tak perlu kuributkan apa yang tak kusukai.
Entah sejak kapan, yang aku inginkan hanyalah mempermudah dan menyederhanakan hidupku.
Rasanya waktuku terlalu singkat dan tenagaku terlalu terkuras untuk memikirkan dan menjalankan apa yg seharusnya tidak menjadi masalahku. Dulu aku selalu mengatakan pada mereka yg kukenal,
Anggaplah aku angin.
Sekarang, aku merasa aku memanglah angin.
Karenanya, bukan aku tak menghargai kenangan.
Namun seringkali, kenangan diingat karena ada yang ingin digenggam.
Bagiku, kesedihan selalu lebih gelap, dari pacar gelap.
Dan pesona pria penambal cinta itu, meniup indra dengarku,
namun nyatanya Angin, tak pernah bisa dan tak ingin digenggam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar