Saya sudah berada jauh
Jauh dan jatuh ke dalam hatinya
Jauh dan jatuh ke dalam hatinya
Kini pilihan telah memaksaku untuk memilih diantaranya
Meninggalkan atau tetap berada di posisi yg tak jelas tujuannya
Meninggalkan atau tetap berada di posisi yg tak jelas tujuannya
Apa
saya pantas untuk mengadilinya?
Katamu,
Tuhan. Cinta adalah Anugrah.
Tapi
kurasa ini anugrah yang sangat menyakitkan.
Terkadang,
ketika saya melupakan pahitnya, saya bisa terlalu nyaman, disampingnya.
Ketika
saya tahu, saya berada ditempat yang salah, saya terkadang menyalahi pendapat
sebagian orang.
Dan
akhirnya saya menenangkan diri dengan berkata kepadanya:
”ya udah jalanin aja dulu, tergantung Allah nanti..,"
Sungguh,
saya sekarang sedang menjilati ludah saya sendiri.
Rasanya,
mengganjal, gelisah, rasanya serba salah.
Dengan
itu, saya lebih menutup diri.
Tuhan,
seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat bahagia.
Dan
saya telah merubah posisinya..
Bagaimana
kalau kebahagiaan yang mencari kita di tempat yang salah?
Saya
tidak menginginkan ini, tapi saya telah mencintai perjalanan ini.
Bukan
kita yang salah langkah, namun keadaan ini yang membuat kita jatuh kedalam
Kita
hidup di lingkungan dimana hampir setiap orang penuh dengan kepura-puraan yang
sebenarnya ia tidak inginkan. Mau ngejelasin gimana pahitnya juga enggak
bakalan ngerti kalau belum pernah neleh ‘HAL’ yang sama.
Karena
menahan untuk tidak pergi adalah Harapan.
Karena
Perpisahan adalah pasti untuk ujung kisah ini.
Teman
saya pernah berkata dalam twitternya:
