Rabu, 18 September 2013

Seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat Bahagia

Saya sudah berada jauh
Jauh dan jatuh ke dalam hatinya
Kini pilihan telah memaksaku untuk memilih diantaranya
Meninggalkan atau tetap berada di posisi yg tak jelas tujuannya

Apa saya pantas untuk mengadilinya?

Katamu, Tuhan. Cinta adalah Anugrah.
Tapi kurasa ini anugrah yang sangat menyakitkan.
Terkadang, ketika saya melupakan pahitnya, saya bisa terlalu nyaman, disampingnya.
Ketika saya tahu, saya berada ditempat yang salah, saya terkadang menyalahi pendapat sebagian orang.
Dan akhirnya saya menenangkan diri dengan berkata kepadanya:
”ya udah jalanin aja dulu, tergantung Allah nanti..,"

Sungguh, saya sekarang sedang menjilati ludah saya sendiri.
Rasanya, mengganjal, gelisah, rasanya serba salah.
Dengan itu, saya lebih menutup diri.
Tuhan, seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat bahagia.
Dan saya telah merubah posisinya..
Bagaimana kalau kebahagiaan yang mencari kita di tempat yang salah?
Saya tidak menginginkan ini, tapi saya telah mencintai perjalanan ini.
Bukan kita yang salah langkah, namun keadaan ini yang membuat kita jatuh kedalam

Kita hidup di lingkungan dimana hampir setiap orang penuh dengan kepura-puraan yang sebenarnya ia tidak inginkan. Mau ngejelasin gimana pahitnya juga enggak bakalan ngerti kalau belum pernah neleh ‘HAL’ yang sama.
Karena menahan untuk tidak pergi adalah Harapan.
Karena Perpisahan adalah pasti untuk ujung kisah ini.

Teman saya pernah berkata dalam twitternya: