Rabu, 08 Januari 2014

Meradang

Meradang.
Apa yang bersemayam dalam pikiranmu sekarang?
Mungkinkah benci? Hanya diam.

Dan..diammu yang menengahi langit
Berjalan beriringan dengan diamku yang melukis malam tak bewarna
Sapa manjamu tepikan gelisah yang memamah gundah
Mengapa hadirmu yang sekejap menelantarkan pikiran di batas gelisah

Dan..galau meracau sirna
Lalu tanda-tandamu tak juga bisa kubaca
Bahkan, sekedar satu kata pun, tak ada
Dejavu. ragu bertamu tanpa permisi
Hadirmu kenapa semu, di mana sebenarnya kita berdiri?

Dan..apakah kata tlah mati dalam benjananya?
Telanjang membuka dirinya, tapi hilang maknanya dalam kesenyapan masa
Rapuhkah bahagia yang kusentuh?
Membungkam waras, bahkan sekadar untuk mengaduh, sekali saja.

Lalu..aku tlah berjalan begitu jauh dari diriku
Begitupun sebesar inginku dan sedalam harapanku:
Ingin bernaung kembali dalam payung mata beningmu
Itu, saja.


Senin, 14 Oktober 2013

Tiada yang berhenti

Jangan membiarkan diri menjadi tenggelam
Kehidupan tidak akan berhenti hanya karena satu atau berulang penghinaan
Betapa pun menyakitkannya, penghinaan itu
Akan selalu tersedia peluang untuk menemukan sisi lain kehidupan yg lebih berharga

Takdir yang harus dilalui

Semakin kau ingin melindungi, semakin kau akan terluka
semakin kau ingin mendapatkan hal yang kau inginkan, semakin akan kehilangan
Ini menjadi takdir yang harus dilalui
Jika kau benar-benar ingin melindungi, kau tak boleh memperlihatkan kelemahan
Kau harus kehilangan satu untuk mendapatkan satu

Bekerja keras

Karena kita dilahirkan dengan keadaan yang  berbeda
Dan kalau kau mendefinisikan bahwa kehidupan
Ditentukan oleh keadaan kita dan apa yang kita bawa sejak lahir
Maka, aku sama sekali tidak dapat mengubah segalanya sesuai kemampuanku
Namun bagaimanapun juga, aku akan bekerja keras
karena hal yang dapat aku lakukan di keadaanku saat ini adalah bekerja keras

Missing You

Ada lampu jalan didepan rumah
Dari sana kerumah, dibutuhkan 280 langkah
Jika kita telah berjalan menjauh dari satu sama lain selama 14 Tahun
Berapa banyak langkah yang dibutuhkan untuk bisa kembali?
Jika dia tidak datang bahkan jika aku harus menunggu
Itu tidak berarti bahwa dia meninggalkanku
Itu berarti dia dalam perjalanan

Senin, 23 September 2013

Kenyataan belum juga berdamai

Kenyataan belum juga berdamai.
Sudah siapkah kita berperang melawan arusnya?
Cinta dan Rindu yang meregang pengakuan juga pengingkaran.
Kita tidak sedang mengawalinya karena kita tidak pernah mengakhirinya.
Apa sebenarnya yang inginkan sekarang?
Kapal telah berlayar.
Dan kita adalah sepasang penumpang
yang terombang ambing di pusaran gelombang

Bersambung.
Inikah episode yang kita inginkan?
Cerita cinta yang berulang tanpa pengakhiran
Entah!

Notasi


Pada akhirnya, perjalanan panjang yang bisa
memahamkan; di posisi mana, arti hadir kita
Sekedar remah atau senyata emas.

Jatuh cinta pada padangan pertama, itu
mungkin terjadi. Tapi, sekali lagi, waktu juga
yang akan menguji.

Tak butuh menjadi siap atau apa aku di matamu
ketika cinta jatuh telak dihatimu
aku adalah aku tanpa awalan atau akhiran.
ketika kamu jatuh telah di hatiku,
kamu adalah kamu tanpa notasi berurutan; di hatiku


Melupakanmu? Tidak.

Selambat atau secepat apa kita ingin melupakannya?
Tidak ada jawaban yang tersirat, pun tersurat.
Selama ingatan adalah akarnya, melupakan adalah milik waktu; kapanpun itu.
Biarkan waktu yang melupakanmu karena aku tak mampu membunuh ingatanku.

Kehilanganmu membuatku mempunyai harapan..
Harapan yang membuatku bisa terus berjalan.

Dan..
Aku percaya cinta itu bersifat menuntun.
Tapi kubutuh tanganmu untuk sampai ketujuan.

Muara segala kenang

....
Ada bayang yang tak pernah pergi
Ada nama yang selalu mendiami
Serat seutas wajah yang terus menerangi
Pada hati bangkitkan semangat diri
Kini ku lalui hari - hari, Sendiri.

Malam ini kutulis puisi hati
Aku pernah sempat mengungkapkan isi hati
Hanya ada pada makna puisi dan lagu ini yang bisa ku beri
Bahwa cinta belum menemui
Aku kalap pada perasaan sendiri
Bahwa hati tak bisa dibohongi

Tunggu saja hingga besok
Kalau cinta datang lagi
Akan kubuat kepingan itu bersatu kembali
lalu...
Senja tengah terlelap, menghela nafas
Meninabobokan diri dari keriuhan

Kala itu..
Tentang kala, satu masa dari cerita kita yang bisu
Ketika setiap kata sendat di ketepian penantian
Hanya bisa mengingatmu lewat lirik lagu sedih

Selamat malam. .kamu, muara segala kenang..




Rabu, 18 September 2013

Seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat Bahagia

Saya sudah berada jauh
Jauh dan jatuh ke dalam hatinya
Kini pilihan telah memaksaku untuk memilih diantaranya
Meninggalkan atau tetap berada di posisi yg tak jelas tujuannya

Apa saya pantas untuk mengadilinya?

Katamu, Tuhan. Cinta adalah Anugrah.
Tapi kurasa ini anugrah yang sangat menyakitkan.
Terkadang, ketika saya melupakan pahitnya, saya bisa terlalu nyaman, disampingnya.
Ketika saya tahu, saya berada ditempat yang salah, saya terkadang menyalahi pendapat sebagian orang.
Dan akhirnya saya menenangkan diri dengan berkata kepadanya:
”ya udah jalanin aja dulu, tergantung Allah nanti..,"

Sungguh, saya sekarang sedang menjilati ludah saya sendiri.
Rasanya, mengganjal, gelisah, rasanya serba salah.
Dengan itu, saya lebih menutup diri.
Tuhan, seharusnya tidak ada sedih dalam mengingat bahagia.
Dan saya telah merubah posisinya..
Bagaimana kalau kebahagiaan yang mencari kita di tempat yang salah?
Saya tidak menginginkan ini, tapi saya telah mencintai perjalanan ini.
Bukan kita yang salah langkah, namun keadaan ini yang membuat kita jatuh kedalam

Kita hidup di lingkungan dimana hampir setiap orang penuh dengan kepura-puraan yang sebenarnya ia tidak inginkan. Mau ngejelasin gimana pahitnya juga enggak bakalan ngerti kalau belum pernah neleh ‘HAL’ yang sama.
Karena menahan untuk tidak pergi adalah Harapan.
Karena Perpisahan adalah pasti untuk ujung kisah ini.

Teman saya pernah berkata dalam twitternya:





Minggu, 26 Mei 2013

Jika itu cinta, usahlah ditanya

Lebih karena mencintai adalah karunia.
Aku pun memutuskan untuk tidak mengacuhkan seribu tanya mengapa kemudian memilihmu.
Toh tak ada jawaban yang tepat untuk setiap langkah kakiku yang merindu pulang menuju dirimu.
Juga tak ada alasan pasti mengapa aku selalu ingin rebah  manja di dadamu.
Sudah lama aku berhenti bertanya, berhenti menjawab.
Karena semua itu hanya akan membuatku meragu.
Maaf jika aku tak di sana ketika kamu gelisah.
Maaf jika aku tak punya kendali atas waktu dan jarak.
Maaf untuk semua gelisah yang kau rasakan.
Maaf karena diam-diam aku yang egois ini senang saat rindumu hanya untukku seorang.

Notasi

Pada akhirnya, perjalanan panjang yang bisa memahamkan;
diposisi mana, arti hadir kita. Sekedar remah atau senyata emas.
Jatuh cinta pada pandangan pertama, itu mungkin terjadi.
Tapi, sekali lagi, waktu juga yang akan menguji.
Tak butuh menjadi siapa atau apa aku di matamu.
Ketika cinta jatuh telak di hatimu,
Aku adalah aku tanpa walan atau akhiran.
ketika kamu jatuh telak di hatiku, kamu
adalah kamu tanpa notasi berurutan; di hatiku.

Kamu adalah semata rindu itu

Rindu. Satu-satunya kemewahan yang kumiliki.
Ada padamu, titik! Selalu ingin kuberi dan tak ingin kuingkari.
Pada larik-lariknya, aku bisa berkaca tentang dambaku yang merajuk senyap
dan memendarkan getar pesakitan.
Setia tergopoh berlari ke aramu, kapan pun itu.
Adalah semata dirimu yang membuat diriku merasa luar biasa.
Adalah rekah-tawa dan lebam-tangis yang membuat kebersamaan kita selama ini
menjadi berharga dan bermakna.
Adalah dirimu, semata sebab yang menghadirkan bahagiau berlinang air mata #Aryou.

Senin, 01 April 2013

Dan Menangislah

Tak selamanya pedih itu berarti sakit.
Kadang, tangis yang mengiring adalah bahagia yang tak kita sadari.
Paling tidak, kita jadi mengerti apa sesungguhnya sakit ketika kita merasakan air mata mengalir.
Inilah kebahagiaan sesungguhnya.

Betapa tidak ada makna hidup ketika kita tak pernah punya air mata. 
Tawa, mungkin, tak pernah terselami arti sejatinya saat mata kita kering dari air mata. Menangislah sejadi-jadinya jika itu yang menjadi apa yang paling kita inginkan saat ini, detik ini! …

Mendendam Rindu

Percuma mengelabui waktu.
Tertulis disana, rinduku membunuh nafasmu.
Parau tersedak luka yang mulai membiru.
Ini bukan biru langit, sayang; tapi biru luka yang menyisakan perih dipusat lembamnya. 
Ada rindu disana; juga ikatan yang tak berdaya.
Suatu ketika, entah kapan masanya, akan kulampiaskan rindu dendamku; disetiap ruas tubuhmu.

Rabu, 12 Desember 2012

Tanya hati

Kenyataan belum juga berdamai.
Sudah siapkah kita berperang melawan arusnya?
Cinta dan rindu yang meregang pengakuan juga pengingkaran
Kita sedang mengawalinya
Apa sebenarnya yang kita inginkan sekarang?
Kita telah belayar
Dan kita adalah sepasang penumpang yang terombang-ambing dipusaran gelombang

Bersambung.
Inilah episode yang kita inginkan?
Cerita cinta yang berulang tanpa pengakhiran
Entah! Mari kita merintih bersama, tanyakan pada hati.

Ujung pengakhirannya


Apa yang telah kau gapai dalam hidup ini?
Restu orangtua dengan keakuan-keakuan lainnya?
Yang kulihat kau bersikap layaknya selebriti tampil penuh pesona
Dengan membudidayakan teriakkan penonton untuk menyorakinya
Senyum membangga bahwa kau seperti se(ri)galanya
Aku kira menjadi dirimu, aku takkan bisa lebih pintar
Menggunakan hati tanpa belajar
Namun aku berperasaan
Dan aku dapat menahan diri dari gejolak perasaan
Tapi, sayangnya aku bukanlah dirimu
Menganggap semuanya lugu
Seperti lugu sapamu hanya membentur angin lalu
Baiklah! Mungkin ini yang kau perlu
Memposisikan dirimu dengan menganggap manusia itu ada
Bahkan tanpa kata “dengan” pun, aku mampu membawa pulang bahagia
Dan kau lebih senang memproklamirkan disetiap beranda
Tapi aku tak pandai seperti anda.
Yang kutahu bahwa
Cinta memiliki aturannya sendiri
Cinta mendekat dan menjauh tanpa aturan
Cinta mewujud dalam berbagai bentuk tak terduga
Cinta bukan soal gagal atau tidaknya
Tak bisa dicerna kecuali dengan mata hati
Ikuti saja kemana ia membawa serta
Membutuhkan waktu yang tak terbilang untuk pertautan dan perpisahan
Tangis yang mencakup bahagia, juga tawa yang mencatut luka
Sepertiku saat kuputuskan masuk kedalam laut hatimu
Aku pun berenang jauh melawan jarak dan waktu
Cinta tetaplah indah apapun hasilnya
Apa yang seharusnya kita lakukan adalah mencari kesempurnaannya
Bukan mencari keakuan-keakuan lainnya
Itu saja.


Minggu, 09 Desember 2012

Dua sebab

Ada sebabnya saya bertahan diantara keadaan ini
Dimana saya merasa masih membutuhkan dirimu
Diantaranya lagi saya belum bisa membuang jauh kenanganmu

Dua keadaan inilah yang sering membuatku terlena
Membiarkan segala cuaca dihatiku menerima resapan rindumu
Membiarkan bayang-bayangmu menerangi khayalanku
Bahkan membiarkan diri ini menerima (lagi) keburukan-keburukan
Entah harapan yang memudarkan kenyataan atau keputusasaan yang tak dapat lagi kembali bersamamu

Aku ini hanyalah, perempuan
Perempuan yang terbiaskan kekecewaan
Kekecewaan yang telah biasa membayangiku untuk terus menunggu
Dengan hidupku sebagai bekas kekasihmu, telah membuat hidupku lebih berarti (lagi)
Berarti, menghadapi kesialan bahkan kesialan setiap harinya
Ya. Sangat membekas dihati.

Tapi tenanglah, keadaan ini akan terbiasa
Berpura-pura bahagia itu cukup
Cukup, aku masih dapat menjaga hatimu


Sabtu, 27 Agustus 2011

Rindu

Aku mencintai apa yang kulakukan. 
Namun aku rindu menikmati saat melakukan apa yang tidak terlalu kusukai. 
Mungkin cinta memang selalu membutakan, apabila ditujukan hanya bagi kebahagiaan diri sendiri. 



Rabu, 17 Agustus 2011

Masih


Beberapa menit yang lalu, kamu bahagia. Merasa tidak ada orang lain di dunia ini yang bisa sebahagia kamu. Alasannya sederhana saja, karena senja tadi kamu berpapasan dengannya. Di jalan raya, yang ramai mengamuk, tiba-tiba dia menyapamu dari belakang. Bertanya, kamu hendak ke mana?
Yang membuatmu bahagia, karena detik ketika dia tiba-tiba menyapa, adalah detik yang sama ketika hati serta pikiranmu sedang dijajah olehnya. Ya, kamu sedang mengimajinasikan dia dan tiba-tiba dia menjadi nyata. Semua orang yang sedang jatuh cinta, pasti juga akan merasakan apa yang kamu rasakan. Bahagia, luar biasa bahagia.
Dan kamu ingin segera pulang ke rumah, ingin mengkristalkan apa yang kamu rasakan dalam bentuk yang lebih nyata. Tidak hanya sebatas perasaan saja. Karena pikirmu, suatu saat nanti ketika kamu jatuh sedih, kamu bisa membuka kembali cerita ini dan tersenyum bahagia. Ya, kamu ingin segera pulang ke rumah. Untuk menggambarkan cerita ini, mengabadikannya entah dalam aksara atau bahasa visual. Yang jelas kamu ingin mengabadikannya.
Tapi detik yang sama, ketika telunjukmu akan memencet satu huruf pertama…
Semua rasa yang tadi ada luruh secara tiba-tiba. Jatuh entah di mana. Seperti mendadak ada gerhana matahari, yang semula benderang mendadak menjadi hilang. Karena satu alasan sederhana. Alasan yang memiliki korelasi dengan dia, yang juga tadi membuatmu merasa menjadi orang paling bahagia.
Selamat ya, sepertinya kamu masih jatuh cinta.